Ketidakpastian ini diperparah dengan terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru. Sosoknya dikenal konservatif sehingga memicu kekhawatiran pasar bahwa konflik akan berlangsung lebih lama dan sulit menemui kesepakatan damai.
(Feby Novalius)