Harga BBM Pertalite Tetap Rp10.000 hingga Akhir Maret, Setelah Itu Naik?

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis
Jum'at 13 Maret 2026 05:07 WIB
Harga BBM Pertalite Tetap Rp10.000 hingga Akhir Maret, Setelah Itu Naik? (Foto: Okezone)
Share :

JAKARTA - Pemerintah akan menghitung ulang harga BBM subsidi seperti Pertalite setelah periode Lebaran yang berlangsung hingga akhir Maret 2026. Saat ini harga BBM Pertalite masih dibanderol Rp10.000 per liter.

Wakil Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan, evaluasi harga BBM Pertalite merespons kondisi harga minyak mentah dunia yang melonjak hingga ke angka USD90 an per barel. Bahkan harga tersebut melampaui asumsi makro APBN tahun 2026 yang dipatok di level USD70 per barel. 

"Kita juga sudah menyampaikan, bahwa untuk Pertalite ini tidak akan ada kenaikan harga sampai dengan berakhirnya triwulan I-2026," ujar Yuliot dalam konferensi pers Posko Angkutan Lebaran BPH Migas, Kamis (12/3/2026).

Penyesuaian Harga BBM Pertalite

Yuliot mengatakan, penyesuaian harga Pertalite dilakukan dengan menghitung besaran alokasi terhadap kompensasi yang diberikan pemerintah. Sebab kenaikan harga minyak dunia membuat beban kompensasi pemerintah punya porsi yang lebih besar dan pengaruhi kinerja fiskal. 

"Jadi nanti kita akan evaluasi terkait dengan perkembangan harga minyak dunia dan juga bagaimana alokasi terhadap subsidi dan kompensasinya," sambungnya. 

Harga BBM Pertalite Tetap Rp10.000

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan harga BBM Pertalite tetap Rp10.000 per liter hingga Lebaran 2026 di tengah konflik Timur Tengah yang mengerek harga minyak dunia.

"Untuk harga BBM subsidi, saya pastikan bahwa sampai dengan hari raya tidak ada kenaikan apa-apa. Kami sudah melakukan rapat dengan Dewan Energi Nasional (DEN), dan kami sudah mengantisipasi bahwa stok BBM kita untuk menjelang lebaran," ujar Bahlil di Istana Negara Jakarta, (4/3/2026).

Namun demikian, Bahlil mengatakan untuk BBM jenis non subsidi diperkirakan akan tetap mengikuti fluktuasi harga minyak dunia. Naik atau turun harga minyak mentah dunia akan membentuk harga BBM non subsidi di pasar.

"Sekalipun ada terjadi kenaikan harga minyak akibat perang Israel, Amerika, dan Iran, tetapi kalau untuk harga BBM yang non subsidi itu memang mekanisme pasar," lanjutnya.

 

Defisit APBN Bisa Bengkak 4% Imbas Harga Minyak USD100

Sementara itu, Ekonom Indef Hakam Naja memproyeksikan defisit APBN 2026 terhadap PDB bisa mendekati 4%, melampaui angka 3% yang dipatok oleh Undang-Undang Nomor 17/2003 tentang Keuangan Negara. Angka ini diproyeksi terjadi jika harga minyak dunia terus merangkak naik ke USD100 per barel imbas penutupan Selat Hormuz buntut perang Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran. 

Dia menjelaskan, penutupan Selat Hormuz yang dilalui 20% suplai minyak dunia menjadi pemicu kenaikan harga minyak dunia. Saat ini asumsi makro APBN 2026 harga minyak pada kisaran USD70 per barel. Sedangkan kenaikan USD1 per barel minyak akan menaikkan defisit sebesar Rp6,8 triliun, Pada hari ini saja, harga minyak melonjak sekitar 20% menembus level USD100 per barel pada perdagangan awal Senin.

"Kenaikan harga minyak pada angka mendekati USD100 per barel ini bisa mendongkrak defisit APBN terhadap PDB mendekati 4 persen, melampaui angka 3 persen yang dipatok oleh UU Nomor 17/2003 tentang Keuangan Negara," ujar Naja di Jakarta, Senin (9/3/2026).
 

(Dani Jumadil Akhir)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya