Monas Jadi Sumber PAD, Gerakkan Ekonomi Lokal Jakarta

Feby Novalius, Jurnalis
Selasa 17 Maret 2026 18:43 WIB
Monumen Nasional (Monas) bukan hanya ikon sejarah dan wisata, tetapi juga menyumbang kontribusi ekonomi. (foto :Okezone.com)
Share :

JAKARTA – Monumen Nasional (Monas) bukan hanya ikon sejarah dan wisata, tetapi juga menyumbang kontribusi ekonomi nyata bagi Jakarta. Retribusi pengunjung yang terjangkau menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) DKI Jakarta, yang digunakan untuk pemeliharaan fasilitas publik, pengembangan infrastruktur, dan peningkatan destinasi wisata, sekaligus mendorong ekonomi lokal melalui kunjungan wisatawan.

Kepala Pusat Data dan Informasi Pendapatan Bapenda Jakarta, Morris Danny, mengatakan bahwa sebagai destinasi wisata publik, Monas menerapkan tarif masuk yang terjangkau bagi masyarakat. Retribusi yang dibayarkan pengunjung menjadi bagian dari penerimaan daerah yang dikelola secara akuntabel oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

"Penerimaan dari retribusi jasa usaha tersebut berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang digunakan untuk mendukung pembiayaan layanan publik, pemeliharaan fasilitas umum, peningkatan infrastruktur, serta pengembangan destinasi wisata yang lebih baik dan nyaman," ujarnya, Selasa (17/3/2026).

Dengan demikian, setiap kunjungan ke Monas tidak hanya bermakna sebagai aktivitas rekreasi dan edukasi, tetapi juga sebagai bentuk partisipasi aktif masyarakat dalam mendukung pembangunan kota.

"Kontribusi tersebut menjadi bagian dari upaya bersama dalam menjaga warisan sejarah sekaligus memperkuat kualitas layanan publik di Jakarta," tambahnya.

Sebagai salah satu landmark paling ikonik di Indonesia, Monas tidak hanya menjadi destinasi rekreasi, tetapi juga pusat edukasi sejarah dan penguatan nilai nasionalisme. Setiap sudut kawasan ini menyimpan makna tentang identitas, perjuangan, dan kebanggaan bangsa.

Monas pertama kali dicetuskan oleh Soekarno pada tahun 1954. Monumen ini dirancang sebagai simbol perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan.

 

Setelah melalui proses perancangan dan seleksi, desain karya Soedarsono ditetapkan sebagai rancangan resmi pada 1961. Pembangunan dimulai pada 17 Agustus 1961, bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Dimensi Monas dirancang sarat makna simbolik. Angka 17, 8, dan 45 merepresentasikan tanggal Proklamasi 17 Agustus 1945. Hal ini diabadikan dalam ukuran bangunan, mulai dari tinggi pelataran cawan hingga luas area tertentu di kawasan monumen.

Monas menjulang setinggi 132 meter di atas kawasan seluas sekitar 80 hektare. Pada puncaknya terdapat lidah api berlapis emas seberat sekitar 35 kilogram yang melambangkan semangat perjuangan rakyat Indonesia yang tak pernah padam.

Di dalam Monas terdapat Museum Sejarah Nasional yang menyajikan diorama perjalanan bangsa Indonesia, mulai dari masa kerajaan Nusantara hingga era modern. Museum yang berada di bagian bawah monumen tersebut menghadirkan pengalaman edukatif yang interaktif dan informatif bagi pengunjung dari berbagai kalangan. Keberadaan Monas sejak awal memang ditujukan untuk mengenang perjuangan bangsa pada masa revolusi kemerdekaan serta membangkitkan semangat patriotisme generasi penerus.

(Feby Novalius)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya