"Tantangan yang kedepan akan muncul adalah supply chain. Supply chain kan kita tahu terganggu beberapa karena peperangan, juga komoditi tertentu," kata Santoso.
Ia merinci lebih lanjut mengenai ketergantungan industri terhadap wilayah konflik dan bahan baku spesifik:
"Komoditi yang dari dulu kan gandum kita tahu tergantung dari Ukraina. Ada yang sangat support terhadap turunan daripada minyak. Contohnya industri plastik, industri chemical itu pasti akan berdampak. Jadi saya berkeyakinan bahwa masing-masing pemain sudah mencoba memiliki antisipasi," jelasnya.
Dengan demikian, Santoso mengibaratkan navigasi bisnis di tengah ketidakpastian ini seperti mengendarai kendaraan yang membutuhkan kecermatan dalam mengatur momentum.
"Jadi kita nantikan saja karena kita juga enggak ada yang tahu kapan perang ini akan berakhir. Jadi yang penting adalah waktunya ini dibutuhkan driver yang pandai untuk kapan ngegas dan kapan ngerem," pungkasnya.
(Taufik Fajar)