Meskipun isu perang dagang saat ini tertutup oleh berita konflik militer, Ibrahim mencatat bahwa penerapan tarif hingga 15 persen dengan negara mitra tetap berjalan.
Di tengah volatilitas mata uang, Ibrahim melihat Bank Sentral global terus melakukan aksi beli logam mulia sebagai instrumen lindung nilai (hedging). Pelemahan rupiah justru dipandang sebagai penahan koreksi harga emas di dalam negeri.
“Karena kita lihat bahwa walaupun harganya turun, ini kesempatan terbaik bagi Bank Sentral Global untuk melakukan pembelian dengan harga yang relatif lebih murah. Dan harus diingat bahwa pelemahan logam mulia itu tertahan oleh pelemahan mata uang rupiah,” ungkapnya.
Adapun mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,45 persen secara harian ke Rp16.980 per dolar AS.
Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah melemah 0,32 persen secara harian ke Rp16.957 per dolar AS.
Dengan demikian Ibrahim memperkirakan rupiah pada Senin (30/3) bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp16.980 – Rp17.030 per dolar AS.
(Taufik Fajar)