“Kondisi ini memberi pesan yang sangat jelas bahwa ketergantungan adalah sebuah risiko, dan dalam pembangunan nasional risiko harus kita kelola dengan disiplin agar biaya tidak meledak,” ujarnya.
Dody menjelaskan, kebutuhan aspal nasional saat ini mencapai sekitar 1 juta ton per tahun dan diproyeksikan meningkat menjadi 1,5 juta ton pada tahun-tahun mendatang. Namun, hampir 80 persen kebutuhan tersebut masih bergantung pada aspal berbasis minyak bumi atau impor.
Di sisi lain, Indonesia memiliki cadangan asbuton yang sangat besar di Pulau Buton, tetapi pemanfaatannya masih terbatas, yakni baru sekitar 4 persen dari total kebutuhan nasional. "Ini adalah peluang besar bagi kita untuk semakin berdiri di atas kaki sendiri. Sesuatu yang wajib kita optimalkan secara bersama,” kata Dody.
Untuk itu, Kementerian PU menargetkan peningkatan penggunaan asbuton dalam pembangunan jalan nasional hingga minimal 30 persen. Kebijakan ini diyakini mampu memberikan berbagai manfaat, baik dari sisi ekonomi, industri, maupun tata kelola.
(Taufik Fajar)