Sementara itru menurut risalah FOMC bulan Maret yang dirilis pada hari Rabu, para pejabat Fed masih memperkirakan akan menurunkan suku bunga tahun ini, bahkan ditengah tingkat ketidakpastian yang tinggi dari perang Iran dan tarif.
Para pembuat kebijakan menyatakan bahwa mereka perlu tetap "gesit" saat mereka mempertimbangkan dampak perang terhadap inflasi, yang terus berada di atas target Fed, dan perekrutan tenaga kerja, yang sebagian besar stagnan selama setahun terakhir.
Dari sentimen domestik, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 sebesar 4,7 persen, turun dari perkiraan sebelumnya 4,8 persen. Meski direvisi turun, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan proyeksi pertumbuhan kawasan Asia Timur dan Pasifik (EAP) yang hanya 4,2 persen.
Prospek ekonomi kawasan dipengaruhi tiga faktor eksternal utama, yakni konflik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga energi, pembatasan perdagangan di Amerika Serikat serta ketidakpastian kebijakan global, dan perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI).
Sebelumnya, OECD memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026. Pertumbuhan diperkirakan berada di level 4,8 persen dari sebelumnya 5 persen. Revisi ini muncul di tengah tekanan global yang meningkat, terutama akibat lonjakan harga energi dan ketegangan geopolitik.
Pesimisme Bank Dunia dan OECD berbanding terbalik dengan Pemerintah yang optimis memproyeksikan ekonomi 2026 tumbuh kuat di kisaran 5,4–5,7 persen didorong oleh konsumsi domestik, investasi, dan program biodiesel B50, dengan optimisme mencapai 6 persen melalui transformasi struktural.
Fokusnya adalah kedaulatan pangan/energi, kebijakan fiskal pruden, dan percepatan investasi untuk menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian global.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.090-Rp17.140 per dolar AS.
(Taufik Fajar)