The Fed juga diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah pada hari Rabu. Powell akan digantikan oleh mantan gubernur Fed, Kevin Warsh, yang memberikan kesaksian di hadapan Kongres dalam sidang konfirmasi pekan lalu.
Dari sentimen domestik, dalam kondisi rupiah melemah, pemerintah maupun Bank Indonesia selalu beranggapan bahwa rupiah berada di bawah nilai wajarnya atau undervalued.
Narasi tersebut terus berulang dalam berbagai situasi, baik saat gejolak global, pandemi, maupun ketika kondisi pasar relatif stabil. Bahkan, ketika nilai tukar menyentuh kisaran Rp17.300 per dolar AS, pernyataan serupa kembali mengemuka.
“Kalau kita lihat kebelakang, sejak 2014 nilai rupiah dikisaran Rp.12.000 per dollar AS hingga melemah ke level Rp.17.000-an dalam beberapa tahun terakhir. Dan kita mempertanyakan relevansi narasi tersebut mengingat tren jangka panjang rupiah yang justru terus mengalami depresiasi,” kata Ibrahim.
Kondisi tersebut semestinya mendorong evaluasi lebih mendalam terhadap pemahaman mengenai nilai wajar rupiah, alih-alih terus mengulang narasi yang sama.
Di satu sisi, sejumlah indikator makroekonomi Indonesia terlihat relatif kuat, seperti inflasi yang terkendali, pertumbuhan ekonomi yang stabil, serta sistem keuangan yang terjaga.
Di sisi lain, terdapat dinamika struktural yang dinilai perlu mendapat perhatian, seperti cadangan devisa yang sebagian ditopang oleh utang, arus investasi asing yang masuk tetapi diikuti aliran keluar dalam bentuk dividen dan bunga, serta gejala pelemahan struktur ekonomi seperti deindustrialisasi dini. Ketergantungan terhadap aliran modal asing jangka pendek, juga menjadi faktor yang membuat nilai tukar rentan terhadap tekanan eksternal.
Penggunaan narasi “rupiah undervalued” telah bergeser dari analisis ekonomi menjadi instrumen komunikasi untuk meredam kepanikan pasar dan menjaga optimisme. Namun, narasi tersebut berpotensi menjadi problematis apabila terus diulang tanpa diiringi perbaikan fundamental yang nyata. Penguatan kepercayaan terhadap mata uang tidak dapat dibangun hanya melalui narasi. Langkah tersebut harus didasarkan pada perbaikan fundamental ekonomi secara nyata.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.240-Rp17.280 per dolar AS.
(Taufik Fajar)