Senada dengan Hery, Direktur Finance & Strategy BRI, Achmad Royadi sebelumnya menjelaskan bahwa pelemahan harga saham BBRI saat ini merupakan refleksi dari dinamika pasar modal secara luas dan persepsi investor global, bukan penurunan kinerja internal.
Royadi menegaskan bahwa dari sisi laporan keuangan kuartal I 2026, BRI berada dalam posisi yang sangat kuat dengan pertumbuhan laba bersih mencapai 13,7 persen.
"Jadi kalau kita melihat ya, kalau melihat dari fundamental yang bagus, kami mencermati bahwa ini lebih ke faktor S&L (supply and demand) dibandingkan dengan faktor fundamental sendiri. Dari sisi fundamental kita juga selain kita yang bagus, kita juga kemarin baru di RUPS mengumumkan bahwa kita membagi dividen yang rasionya juga cukup tinggi ya, 92 persen dari laba tahun 2025," jelas Royadi.
Royadi menambahkan bahwa strategi transformasi perusahaan yang berfokus pada digitalisasi dan penguatan dana murah (CASA) akan terus memberikan nilai tambah bagi pemegang saham dalam jangka menengah. Perseroan tetap optimis bahwa nilai perusahaan pada akhirnya akan tercermin dari fundamentalnya yang kokoh.
(Taufik Fajar)