JAKARTA – Nilai tukar Rupiah terus mengalami tekanan di tengah menguatnya indeks Dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data pasar Non-Deliverable Forward (NDF) posisi Rupiah tercatat melemah ke level Rp17.527 per dolar AS pada hari ini, Kamis (14/5/2026).
Kondisi ini dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik yang kian memanas di Timur Tengah, khususnya di wilayah strategis Selat Hormuz. Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa serangan terhadap instalasi minyak Iran oleh sejumlah negara di kawasan tersebut, yang didukung oleh AS, menjadi pemicu utama ketidakpastian pasar.
"Harus diingat bahwa permasalahan gejolak geopolitik di Timur Tengah ini masih terus dijadikan sebagai momok, terutama adalah di Selat Hormuz. Amerika siap untuk melakukan serangan perang panjang dengan Iran. Nah Iran pun juga sudah siap," ujar Ibrahim dalam risetnya.
Konflik terbuka di Selat Hormuz telah menyebabkan terhentinya sekitar 20 persen transportasi minyak dunia secara total. Hal ini mengakibatkan harga minyak mentah melonjak tinggi dan mendorong penguatan indeks dolar secara global. Ibrahim menilai situasi ini kian pelik dengan adanya desakan penambahan modal perang di Kongres AS serta kesiapan militer Iran untuk melakukan perang terbuka.
Di sisi lain, pasar juga menantikan hasil pertemuan antara Donald Trump dan Xi Jinping di Tiongkok yang membahas potensi perang dagang serta kondisi di Timur Tengah. Ketidakpastian apakah Tiongkok mampu menarik AS kembali ke meja perundingan turut membayangi sentimen pasar eksternal.
Dari sisi internal, Ibrahim menyoroti adanya perdebatan mengenai data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 yang dirilis sebesar 5,61 persen. Ia menyebut angka tersebut melampaui ekspektasi banyak pihak, namun berbanding terbalik dengan kondisi di lapangan atau akar rumput.