“Pertumbuhan seperti ini tidak cukup membawa Indonesia keluar dari middle-income trap. Perlu diversifikasi ke sektor bernilai tambah tinggi. Jika tidak, pertumbuhan hospitality hanya menjadi ilusi stabilitas,” ujarnya.
Deni juga menyoroti dominasi Pulau Jawa yang menyumbang 57,24 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, sementara wilayah luar Jawa masih tertinggal.
“Ketimpangan ini berpotensi memperlebar jurang sosial-ekonomi dan memicu ketidakstabilan politik. Pertumbuhan yang tidak inklusif dapat menjadi bom waktu pembangunan nasional,” katanya.
Ia juga memperkirakan harga minyak dunia masih akan bertahan tinggi dalam jangka panjang. Kondisi tersebut dapat berdampak pada kenaikan biaya produksi, inflasi energi, hingga risiko defisit fiskal.
“Indonesia perlu mempercepat diversifikasi energi dengan memanfaatkan gas domestik dan energi terbarukan agar tidak terus bergantung pada impor minyak,” pungkasnya.
(Feby Novalius)