Purbaya menambahkan, timnya sebenarnya menyisir rekam jejak 20 perusahaan eksportir, namun 10 perusahaan lainnya dikeluarkan dari fokus utama karena volume nilai transaksinya relatif kecil.
"Yang kita fokus ke yang besar, semuanya begitu yang besar itu. Jadi, bisa dipastikan kalau yang besar begitu, yang kecil mungkin sama," jelasnya.
Adapun Purbaya memberikan sejumlah konfirmasi dan bantahan penting ketika dicecar oleh awak media mengenai nama-nama korporasi kelapa sawit yang masuk dalam daftar 10 raksasa terduga pelaku under-invoicing.
Purbaya mengonfirmasi Wilmar, Musim Mas dan Salim Ivomas masuk salah satu dari 10 perusahaan. Kemudian nama korporasi besar lainnya seperti Golden Agri dan Astra Agro Lestari, Purbaya menyiratkan bantahan secara ragu.
“Kayanya enggak itu. saya nggak tahu, saya lupa,” ujarnya.
Namun, respons berbeda diberikan ketika nama salah satu anak usaha raksasa konsumer domestik disodorkan, yakni Salim Ivomas Pratama.
Purbaya mengonfirmasi adanya indikasi keterlibatan emiten tersebut. "Salim Ivomas sepertinya ada," ungkap Purbaya.
Sebaliknya, saat dikonfirmasi mengenai beberapa nama korporasi kelapa sawit besar lainnya seperti First Resources, Cargill, dan Bumitama Agri, Purbaya memilih untuk menahan informasi lebih jauh karena keterbatasan ingatan taktis di lapangan.
"Saya lupa yang lain. rupanya saya enggak inget juga," kata Purbaya menanggapi nama First Resources.
Dia juga menegaskan, "Cargill nggak ada," serta menutup sesi pertanyaan ini mengenai Bumitama dengan menyatakan, "Saya nggak tahu," katanya.
(Dani Jumadil Akhir)