"Pertumbuhan kita jauh lebih cepat dibandingkan banyak negara, bahkan di G20 kita berada di peringkat kedua setelah India. Jadi, prospek ekonomi kita kuat dan pelemahan rupiah belum memberikan efek pelemahan pada aktivitas ekonomi kita," tegasnya.
Selain faktor domestik, Purbaya juga menyoroti potensi membaiknya kondisi global dalam beberapa bulan ke depan.
Dia menilai perkembangan geopolitik yang lebih kondusif berpotensi mengurangi tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
"Dan saya percaya dalam dua atau tiga bulan ke depan situasinya akan jauh lebih baik daripada sekarang, yang berarti gangguan yang sampai batas tertentu melemahkan rupiah juga akan hilang, sehingga itu berarti pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan juga rupiah yang lebih kuat," lanjut Purbaya.
Untuk menjaga stabilitas sektor keuangan dalam jangka pendek, pemerintah terus berkoordinasi dengan bank sentral guna menjaga pasar keuangan tetap kondusif. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mendukung stabilitas pasar obligasi agar kenaikan imbal hasil (yield) tidak terlalu tajam.
Menurut Purbaya, langkah tersebut bertujuan mengurangi risiko kerugian modal (capital loss) bagi investor asing yang memegang obligasi domestik sehingga dapat membantu menjaga arus modal tetap berada di dalam negeri.
"Jadi pada dasarnya, kami membangun koordinasi yang erat dengan Bank Sentral untuk memastikan kondisi sektor keuangan tetap kuat dan stabil. Dan dengan kerja sama yang baik, saya percaya pada akhirnya kita akan dapat memulihkan kepercayaan terhadap Rupiah," tutupnya.
(Taufik Fajar)