Tren positif perseroan terus berlanjut hingga awal tahun 2026. Pada kuartal I-2026, HRTA membukukan pendapatan sebesar Rp20,16 triliun, atau tumbuh melesat 196,96 persen dibandingkan kuartal I-2025 yang sebesar Rp6,78 triliun.
Laba bersih pada tiga bulan pertama tahun ini juga terkerek naik 189,48 persen menjadi Rp433,49 miliar, dari posisi Rp149,75 miliar pada periode yang sama di tahun lalu.
Akselerasi performa ini ditopang oleh kenaikan volume penjualan emas murni sebesar 75,18 persen y-o-y menjadi 7,83 ton.
Selain itu, harga jual rata-rata (Average Selling Price/ASP) produk perseroan ikut terkerek naik sebesar 71,01 persen secara tahunan menjadi Rp2.567.213 per gram.
Dari total pendapatan yang dikantongi, lini bisnis grosir masih menjadi tulang punggung utama dengan kontribusi dominan mencapai 90,60 persen.
Porsi ini sudah mencakup serapan pasar dari segmen institusi keuangan bullion bank serta beberapa perbankan syariah. Sementara itu, segmen ritel menyumbang sebesar 9,13 persen dan lini bisnis gadai memberikan kontribusi 0,26 persen.
Senada, Direktur Keuangan Hartadinata Abadi, Ong Deny mengatakan, Hartadinata Abadi berhasil mencatatkan pertumbuhan yang solid dimana di sepanjang tahun 2025, kinerja keuangan Perseroan mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa.
“Pendapatan Perseroan di tahun 2025 tercatat meningkat sebesar Rp44,55 triliun, tumbuh hingga 144,39 persen secara y-o-y dari Rp18,23 triliun di 2024. Di sisi lain, laba bersih tercatat sebesar Rp978,49 miliar di 2025, tumbuh 121,29 persen y-o-y dari Rp442,18 miliar di 2024,” ungkap Ong Deny.
Demi mempertahankan pertumbuhan yang berkelanjutan, HRTA kini telah mengoneksikan seluruh mata rantai proses manufaktur dari hulu ke hilir.
Upaya ini didukung oleh peningkatan total kapasitas produksi pabrik yang kini mampu menyentuh angka 60 ton per tahun, meliputi lini produksi emas batangan, perhiasan emas, hingga fasilitas pemurnian komoditas emas. Hingga saat ini, jaringan distribusi fisik perseroan tercatat telah mengoperasikan 85 gerai toko retail Hartadinata Abadi serta 138 gerai Gadai Hartadinata Abadi (GHA) di berbagai penjuru wilayah Indonesia.
(Taufik Fajar)