Meski memiliki fondasi bisnis yang kuat, valuasi saham TUGU dinilai masih belum mencerminkan nilai intrinsiknya. Pada saat riset diterbitkan, saham TUGU diperdagangkan pada valuasi hanya 0,44 kali nilai buku, jauh di bawah estimasi nilai wajarnya.
Dalam risetnya, KISI juga mengungkap salah satu faktor yang sempat menimbulkan kekhawatiran investor adalah lonjakan rasio klaim setelah implementasi PSAK 117.
Fenomena tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh dampak transisi standar akuntansi baru dibandingkan memburuknya kualitas underwriting perusahaan.
Hal tersebut tercermin dari hasil jasa asuransi atau insurance service result yang justru meningkat 39% menjadi lebih dari Rp1 triliun sepanjang 2025. Dengan kata lain, profitabilitas inti bisnis asuransi tetap menunjukkan tren yang positif.
Selain itu, TUGU juga diperkirakan memperoleh manfaat dari portofolio investasinya yang mencapai lebih dari Rp11 triliun. Lingkungan suku bunga yang relatif tinggi dinilai dapat memberikan tambahan kontribusi terhadap pertumbuhan pendapatan investasi perusahaan dalam beberapa tahun mendatang.
Dari sisi imbal hasil bagi pemegang saham, TUGU juga menawarkan daya tarik tersendiri. Perseroan membagikan dividen Rp100 per saham dari laba tahun buku 2025, yang setara dengan dividend yield sekitar 8,6%. KISI bahkan memperkirakan dividen dapat meningkat menjadi Rp137 per saham pada 2026.
(Taufik Fajar)