Lebih dari 70 persen pelaku pasar memperkirakan kenaikan suku bunga Fed pada bulan Desember. Imbal hasil obligasi pemerintah tetap mendekati level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir sementara dolar tetap kuat menjelang laporan inflasi.
Investor mengamati dengan saksama data CPI untuk melihat tanda-tanda apakah tekanan inflasi meningkat. Para ekonom memperkirakan inflasi konsumen tahunan akan naik menjadi sekitar 4,2 persen pada bulan Mei, yang akan menandai angka tertinggi sejak April 2023 dan dapat memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan yang ketat.
Dari sentimen domestik, pelaku pasar menyambut baik kenaikan suku bunga Bank Indonesia sebesar 25bp menjadi 5,5 persen pada hari Selasa, yang bertujuan untuk menstabilkan rupiah setelah berulang kali mencapai rekor terendah.
Kenaikan suku bunga acuan juga membantu pemerintah dalam lelang obligasi bertenor 10 tahun, dengan bunga obligasi 7,4 persen sehingga investor asing maupun domestik diharapkan bisa kembali menyerbu lelang Surat Utang Negara (SUN).
Kepercayaan semakin diperkuat oleh janji dana kekayaan negara Danantara untuk tidak mengambil margin keuntungan pada ekspor komoditas strategis dan untuk menghormati kontrak yang ada di bawah kerangka sentralisasi baru.
Kehadiran PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai pintu tunggal ekspor komoditas strategis dirancang untuk memperkuat tata kelola, menjamin kepastian hukum, dan mengoptimalkan penerimaan negara tanpa mengganggu kelangsungan bisnis eksportir. Langkah ini diharapkan mampu meredam volatilitas ekonomi dengan mengedepankan transparansi.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup menguat dalam rentang Rp17.900-Rp18.950 per dolar AS.
(Taufik Fajar)