Di sisi lain, Mukroni mengatakan pengusaha warteg berada dalam posisi yang cukup rentan karena tidak memiliki ruang yang besar untuk menaikkan harga makanan. Mayoritas pelanggan warteg berasal dari kelompok masyarakat yang sensitif terhadap perubahan harga.
"Jika harga porsi makan dinaikkan Rp1.000 saja, risikonya pembeli bisa langsung pindah atau berkurang," ujarnya.
Selain menghadapi potensi kenaikan harga bahan baku, pelaku warteg juga dibayangi penurunan daya beli masyarakat. Kenaikan biaya transportasi yang dirasakan pengguna Pertamax diperkirakan membuat masyarakat lebih selektif dalam membelanjakan uangnya, termasuk untuk kebutuhan makan di luar rumah.
Mukroni mengatakan kelompok pekerja kantoran, buruh, hingga pengemudi ojek online yang selama ini menjadi pelanggan utama warteg berpotensi mengurangi pengeluaran konsumsi apabila biaya transportasi terus meningkat.
"Ketika pengeluaran bensin mereka membengkak, ruang belanja untuk porsi makan di luar otomatis ikut menyusut. Akibatnya, omzet harian warteg berpotensi ikut tertekan jika situasi ini bertahan lama," katanya.