Sementara itu, Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya mengungkap alasan penyesuaian harga Pertamax. Dia menjelaskan, Pertamax merupakan BBM non-subsidi sehingga harganya harus mengikuti harga minyak dunia.
"Pertamax adalah BBM nonsubsidi. Artinya, harga Pertamax harus mengikuti harga minyak dunia," kata Teddy dalam unggahan akun Instagram @sekretariat.kabinet.
Teddy menegaskan, BBM yang bersubsidi tidak ikut naik. "Apa saja BBM bersubsidi? Pertalite dan Solar. Harga BBM Subsidi tidak naik. Pertalite Rp10.000. Solar Rp6.800," lanjutnya.
Teddy menambahkan, harga dunia sudah naik sejak bulan Maret. Sementara, pemerintah sudah menahan kenaikan harga selama berbulan-bulan.
"Harga minyak dunia naik drastis sejak Maret. Tetapi Pemerintah sudah menahan kenaikan selama berbulan-bulan," ungkapnya.
Meskipun Pertamax di Indonesia mengalami kenaikan harga, Teddy menegaskan bahwa harga di Indonesia masih jauh lebih murah dibanding negara lain.
"Walaupun naik, harga Pertamax di Indonesia jauh lebih murah dibanding BBM RON 92/95 di negara lain," jelas dia Teddy.
Berikut harga BBM RON 92/95:
- Indonesia Rp16.260
- Filipina Rp22.158
- Laos Rp31.945
- Thailand Rp28.910
- Myanmar Rp25.085
- Singapura Rp42.971
(Dani Jumadil Akhir)