Namun, ia mengingatkan pengembangan beras fortifikasi perlu dilakukan bertahap karena membutuhkan kesiapan regulasi, industri, distribusi, pengawasan mutu, serta literasi publik.
Nina menekankan harga produk menjadi salah satu isu utama karena beras fortifikasi komersial saat ini masih cenderung dikategorikan sebagai beras khusus yang menggunakan bahan baku beras premium.
“Harga ini harus memberi ruang keuntungan yang wajar bagi industri, tetapi di sisi lain konsumen harus terlindungi,” ucap dia.
Selain itu, harga juga masih menjadi isu sensitif. Selama ini beras fortifikasi kerap dikategorikan sebagai beras khusus dengan bahan baku beras premium, sehingga harganya relatif mahal.
Pembangunan industri FRK (Fortified Rice Kernels), memperkuat penggilingan dan membuka jalan distribusi komersial menjadi salah satu usulan dari panel yang terdiri dari pelaku industri beras.
Sementara itu, Anggota Dewan Penasihat Millers for Nutrition Budianto Wijaya mengatakan teknologi fortifikasi beras pada dasarnya sudah siap, tetapi tantangan utamanya terletak pada kebijakan, pengawasan, dan sinergi ekosistem.
Dia mengatakan jumlah penggilingan padi di Indonesia sangat banyak dan sebagian besar berskala kecil sehingga pengembangan fortifikasi beras perlu dimulai dari pelaku industri yang lebih siap agar mutu produk lebih mudah dijaga.
“Kita harapkan berasnya itu terjangkau oleh banyak masyarakat,” ujar Budianto.