“Ini menunjukkan sebuah fenomena ekonomi yang disebut sebagai decoupling, yang berarti terjadinya pemisahan arah antara sektor riil dan pasar saham. Dengan kata lain, kinerja pasar saham tidak selalu mencerminkan kondisi sektor ekonomi masyarakat sehari-hari,” ujarnya.
Pasar saham bisa saja bertumbuh tinggi, tetapi pertumbuhan ekonomi riil secara global justru mengalami kontraksi. Kondisi ini pernah terjadi pada era Covid-19 ketika harga saham meningkat akibat guyuran stimulus bank sentral melalui kebijakan quantitative easing yang dimanfaatkan sektor swasta untuk melakukan buyback saham.
"Sebaliknya, pasar saham bisa saja turun karena sentimen yang merespons volatilitas geopolitik, tetapi ekonomi sektor riil tetap tumbuh tinggi,” ungkap Gede.
Gede juga menekankan bahwa perubahan haluan pemerintahan Presiden Prabowo yang berupaya menyelesaikan permasalahan struktural kebocoran penerimaan devisa melalui praktik under-invoicing, antara lain dengan pembentukan PT DSI untuk menyelenggarakan bursa serta penerapan kewajiban penempatan DHE, seharusnya memberikan harapan bahwa dalam jangka panjang pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terus meningkat seiring naiknya penerimaan negara.
Meskipun dalam jangka pendek persoalan geopolitik di Selat Hormuz yang belum sepenuhnya selesai masih menjadi faktor utama yang membuat pasar saham gelisah, kondisi ekonomi riil dinilai tetap baik. Di sisi lain, kolaborasi fiskal dan moneter yang telah terjalin dengan baik perlu diikuti oleh perbaikan struktural ekonomi lainnya, seperti penguatan institusi dan tata kelola berbagai program unggulan Presiden, termasuk MBG dan KDMP, yang dinilai sangat mendesak untuk dikerjakan.
(Taufik Fajar)