Tak Hanya IHSG, Banyak Bursa Dunia Merosot Meski Ekonominya Tumbuh

Feby Novalius, Jurnalis
Kamis 25 Juni 2026 14:29 WIB
Bursa Efek Indonesia (Foto: Okezone)
Share :

JAKARTA - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang naik dan turun dalam beberapa periode, mulai dari mingguan, bulanan, hingga tahunan, tidak hanya terjadi di bursa Indonesia, tetapi juga terjadi di 11 bursa saham dunia, seperti Rusia, Hong Kong/China, Afrika Selatan, India, Maroko, Sri Lanka, Ceko, Islandia, dan Kuwait.

Ekonom InFast, Bestari Gede Sandra, mencatat bahwa secara mingguan, lima bursa yang mengalami penurunan terdalam adalah bursa saham Rusia (MOEX) sebesar 9,72%, disusul bursa saham Afrika Selatan (SA40) yang turun 6,02%, dan bursa saham Indonesia (JCI) yang turun 5,42%. Selanjutnya, bursa Hong Kong/China (HK50) turun 3,7% dan Maroko (MASI) turun 1,4%.

Secara bulanan, lima penurunan terdalam terjadi pada bursa saham Rusia (MOEX) yang mengalami penurunan terbesar sebesar 13,65%, disusul bursa Hong Kong (HK50) yang turun 8,54%, kemudian bursa Islandia (ICEX) yang turun 7,19%, bursa Afrika Selatan (SA40) yang turun 6,02%, dan bursa Indonesia (JCI) yang turun 5,2%.

"Secara tahunan, lima penurunan terdalam terjadi pada bursa saham Indonesia (JCI) yang turun hingga 31,95%, disusul bursa saham Rusia (MOEX) yang turun 18,91%, bursa saham Hong Kong/China (HK50) yang turun 8,66%, bursa saham India (NIFTY50) yang turun 8,07%, dan bursa Islandia (ICEX) yang turun 7,7%," ujar Gede, Kamis (25/6/2026).

Gede Sandra menyebutkan bahwa berdasarkan pertumbuhan ekonomi riil atau PDB/GDP, sebagian besar negara yang mengalami penurunan saham tersebut justru mencatatkan angka pertumbuhan di atas rata-rata dunia yang sebesar 3,2%.

Pengecualian terjadi pada Rusia yang mengalami kontraksi sebesar 0,2% dan Afrika Selatan yang hanya tumbuh 1,9%.
Negara-negara dengan pertumbuhan tinggi tersebut antara lain India yang ekonomi riilnya tumbuh mencapai 7,8% pada kuartal I 2026. 

Selain itu, Indonesia mencatatkan pertumbuhan 5,6% pada periode yang sama, China tumbuh 5,0%, dan Maroko tumbuh 5%.

 

“Ini menunjukkan sebuah fenomena ekonomi yang disebut sebagai decoupling, yang berarti terjadinya pemisahan arah antara sektor riil dan pasar saham. Dengan kata lain, kinerja pasar saham tidak selalu mencerminkan kondisi sektor ekonomi masyarakat sehari-hari,” ujarnya.

Pasar saham bisa saja bertumbuh tinggi, tetapi pertumbuhan ekonomi riil secara global justru mengalami kontraksi. Kondisi ini pernah terjadi pada era Covid-19 ketika harga saham meningkat akibat guyuran stimulus bank sentral melalui kebijakan quantitative easing yang dimanfaatkan sektor swasta untuk melakukan buyback saham.

"Sebaliknya, pasar saham bisa saja turun karena sentimen yang merespons volatilitas geopolitik, tetapi ekonomi sektor riil tetap tumbuh tinggi,” ungkap Gede.

Gede juga menekankan bahwa perubahan haluan pemerintahan Presiden Prabowo yang berupaya menyelesaikan permasalahan struktural kebocoran penerimaan devisa melalui praktik under-invoicing, antara lain dengan pembentukan PT DSI untuk menyelenggarakan bursa serta penerapan kewajiban penempatan DHE, seharusnya memberikan harapan bahwa dalam jangka panjang pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terus meningkat seiring naiknya penerimaan negara.

Meskipun dalam jangka pendek persoalan geopolitik di Selat Hormuz yang belum sepenuhnya selesai masih menjadi faktor utama yang membuat pasar saham gelisah, kondisi ekonomi riil dinilai tetap baik. Di sisi lain, kolaborasi fiskal dan moneter yang telah terjalin dengan baik perlu diikuti oleh perbaikan struktural ekonomi lainnya, seperti penguatan institusi dan tata kelola berbagai program unggulan Presiden, termasuk MBG dan KDMP, yang dinilai sangat mendesak untuk dikerjakan.

(Taufik Fajar)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya