Sementara itu, akademis dari Founder & CEO SCI Setijadi menyampaikan bahwa manajemen risiko harus terintegrasi ke dalam operasi harian, mulai dari pengadaan, persediaan, pergudangan, transportasi, kepabeanan, hingga distribusi dan pelayanan pelanggan.
“Supply chain yang tangguh bukan supply chain yang tidak pernah mengalami gangguan, tetapi yang mampu mendeteksi risiko lebih awal, merespons lebih cepat, dan memulihkan operasi dengan dampak serendah mungkin,” kata Setijadi.
SCI merekomendasikan lima pilar ketahanan rantai pasok, yaitu risk governance, visibility, flexibility, collaboration, dan continuous improvement.
Implementasinya mencakup pemetaan risiko end-to-end, penentuan prioritas berdasarkan dampak bisnis, penyusunan SOP kontingensi, pemasok dan rute alternatif, persediaan strategis, sistem peringatan dini, serta pemanfaatan digital control tower.
Menurut Setijadi, control tower bukan sekadar dashboard teknologi, tetapi operating model yang mengintegrasikan data, proses, sumber daya manusia, tata kelola, dan pengambilan keputusan. Tanpa kejelasan kewenangan dan tindakan cepat, data tidak akan menghasilkan ketahanan.
Data menunjukkan, kontribusi sektor logistik terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencatatkan kenaikan signifikan. SCI memproyeksikan bahwa kontribusi industri transportasi dan pergudangan terhadap PDB hingga akhir 2025 mencapai Rp1.500 triliun, dan ditargetkan menembus Rp1.700 triliun pada 2026.
(Dani Jumadil Akhir)