BRI pun memilih pendekatan bertahap melalui penyederhanaan konsep ESG serta program peningkatan kapasitas (capacity building). Edukasi tersebut dilakukan melalui berbagai ekosistem yang dimiliki perseroan, seperti Desa BRILiaN, LinkUMKM, hingga jaringan sekitar 1,2 juta AgenBRILink yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Menurut Yosephine, pendekatan berbasis komunitas dinilai lebih efektif dibandingkan pendampingan secara individual kepada jutaan pelaku UMKM.
"Melalui komunitas dan ekosistem, kita memberikan pemahaman sederhana mengenai keberlanjutan. Keberlanjutan bagi UMKM bukan hanya soal emisi, tetapi juga bagaimana mereka menjadi lebih tangguh menghadapi perubahan iklim," ujarnya.
BRI juga telah melakukan climate risk stress testing untuk memetakan risiko yang dihadapi berbagai segmen pembiayaan. Hasil analisis menunjukkan UMKM relatif tidak terlalu terdampak oleh risiko transisi menuju ekonomi rendah karbon, seperti penerapan pajak karbon.
Sebaliknya, sektor UMKM lebih rentan terhadap physical risk atau risiko fisik akibat perubahan iklim, seperti banjir, kekeringan, kebakaran hutan, serta fenomena El Niño yang dapat mengganggu operasional maupun pendapatan usaha.