"Kami tidak hanya mencari investor. Pertanyaan kami selalu sama, apa teknologi yang bisa dibawa ke Indonesia dan bagaimana teknologi itu dapat ditransfer agar kita mampu membangun kemampuan sendiri," ucapnya.
Sementara itu, President Director Indonesia Battery Corporation (IBC) Aditya F. Arif mengatakan penguasaan teknologi menjadi tantangan utama dalam membangun industri baterai nasional. Menurutnya, kemitraan dengan perusahaan global merupakan langkah awal untuk mempelajari teknologi dan proses manufaktur baterai.
"Kita memulai dari kemitraan dengan pemain global untuk belajar mengoperasikan teknologi. Tetapi kami tidak boleh berhenti di sana. Target akhirnya adalah membangun kapabilitas dan memiliki teknologi sendiri," ujar Aditya.
Ia menambahkan, industri baterai berkembang sangat cepat sehingga Indonesia perlu memperkuat riset, inovasi, serta kolaborasi dengan perguruan tinggi guna menyiapkan talenta yang mampu mengikuti perkembangan teknologi.
"Yang kami bangun bukan sekadar pabrik baterai, tetapi kemampuan teknologi Indonesia. Oleh karena itu, IBC tidak hanya berarti Indonesia Battery Corporation. Bagi kami, IBC juga berarti Indonesia Battery Champion," tutupnya.
(Feby Novalius)