JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup naik 10 poin atau sekitar 0,06 persen ke level Rp17.923 per dolar AS pada akhir perdagangan Kamis (6/8/2026).
Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa salah satu sentimen datang dari eksternal yakni sentimen pasar membaik setelah Iran menyatakan telah mencapai kesepakatan dengan Oman mengenai koordinat usulan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz, sebuah jalur air vital yang menangani sekitar seperlima dari perdagangan minyak dan LNG global.
“Namun, para pedagang tetap berhati-hati karena kesepakatan tersebut belum berarti pembukaan kembali selat secara penuh; negosiasi mengenai biaya kargo, inspeksi, dan pengaturan keamanan yang lebih luas masih belum terselesaikan,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Presiden AS Donald Trump mengatakan dalam sebuah rapat umum di Las Vegas pada hari Rabu bahwa Washington sedang melakukan pembicaraan dengan Teheran dan bahwa ia akan "melihat perkembangannya" dalam negosiasi yang sedang berlangsung. Akan tetapi, Iran secara terbuka membantah bahwa pembicaraan damai dengan Washington sedang berlangsung.
Meski demikian, prospek peningkatan lalu lintas kapal tanker melalui selat Hormuz meredakan sebagian kekhawatiran akan gangguan pasokan berkepanjangan yang sempat memicu lonjakan tajam harga minyak dalam beberapa minggu terakhir.
Penurunan harga energi mendorong investor untuk menurunkan ekspektasi mereka terhadap pengetatan kebijakan lebih lanjut oleh Federal Reserve. Pasar kini memperkirakan adanya peluang sekitar 55 persen untuk kenaikan suku bunga pada bulan September, turun dari angka 67 persen yang tercatat dua hari sebelumnya.
Fokus investor tetap memusatkan perhatian pada data pasar tenaga kerja AS yang akan segera dirilis guna mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan Federal Reserve. Laporan ADP National Employment menunjukkan perlambatan perekrutan di sektor swasta pada bulan Juli, sementara perhatian kini beralih ke laporan nonfarm payrolls hari Jumat yang sangat dinanti-nantikan.
Dari sentimen domestik, pertumbuhan PDB tahunan kuartal kedua yang lebih kuat dari perkiraan, di mana ekonomi tumbuh sebesar 5,29 persen secara tahunan (year-on-year), angka ini sedikit lebih lambat dibandingkan pertumbuhan 5,61 persen pada kuartal pertama namun tetap melampaui proyeksi, sehingga menjadikan pertumbuhan semester pertama sebesar 5,45 persen.
Kemudian, perhatian pelaku pasar pada Agustus tidak hanya tertuju pada hasil peninjauan indeks MSCI, namun juga menantikan pengumuman FTSE Russell periode 10-14 Agustus 2026. Terkait status pembekuan (freeze) Indonesia yang diperkirakan menjadi salah satu katalis penting bagi pasar saham dalam waktu dekat.
Walaupun reformasi yang telah dilakukan regulator /OJK menjadi perkembangan positif, namun belum menjamin perubahan sikap FTSE maupun MSCI dalam waktu dekat.
Sementara itu, MSCI diperkirakan baru menyampaikan evaluasi lanjutan atas tuntutan reformasi pasar modal Indonesia menjelang akhir Oktober 2026.
Sedangkan, MSCI mengumumkan hasil peninjauan indeks kuartalan pada 13 Agustus 2026 waktu Indonesia. Perubahan tersebut akan mulai berlaku pada penutupan perdagangan 31 Agustus 2026.
Oleh karena itu, arah kebijakan penyedia indeks global masih sulit diprediksi, sehingga berpotensi menjadi sentimen yang membayangi pergerakan pasar.
Besarnya pengaruh keputusan penyedia indeks global juga tercermin dari dana pasif yang mereka Kelola, aset kelolaan (passive assets under management/AUM) indeks MSCI mencapai sekitar USD5 miliar atau setara Rp89,98 triliun dengan asumsi kurs Rp17.995 per USD.
Nilai tersebut jauh lebih besar dibandingkan FTSE Russell yang memiliki passive AUM sekitar USD1,5 miliar-USD2 miliar atau setara Rp26,99 triliun-Rp35,99 triliun.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.920-Rp17.970 per dolar AS.
(Taufik Fajar)