Rupiah Tertekan ke Rp17.744, Dibayangi Gejolak Timur Tengah dan The Fed

Anggie Ariesta, Jurnalis
Selasa 01 September 2026 16:04 WIB
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan Selasa (1/9/2026). (Foto: Okezone.com/Freepik)
Share :

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan Selasa (1/9/2026). Rupiah turun 22 poin atau sekitar 0,12 persen ke level Rp17.744 per dolar AS.

Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, salah satu sentimen datang dari eksternal, yakni kondisi Timur Tengah yang kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan lanjutan terhadap Iran. Kondisi tersebut terjadi setelah kedua negara terlibat saling serang secara langsung dan meningkatkan ketegangan dalam konflik yang sebelumnya sempat beralih menjadi kebuntuan ekonomi.

“Upaya para mediator, termasuk Qatar dan Oman, untuk menengahi kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur yang sebelumnya mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak global sebelum perang pecah pada akhir Februari, sejauh ini belum membuahkan hasil yang berarti,” tulis Ibrahim dalam risetnya, Selasa (1/9/2026).

Adapun Iran menutup jalur pelayaran tersebut setelah AS dan Israel menyerang negara itu pada 28 Februari.

Sebagai gambaran mengenai risiko yang masih mengancam pelayaran dan pasokan minyak, badan United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) pada Selasa melaporkan sebuah kapal tanker terkena tiga proyektil saat sedang berlayar keluar dari Selat Hormuz. Tidak ada laporan mengenai korban jiwa maupun dampak terhadap lingkungan.

Pidato Ketua The Fed, Kevin Warsh, di Simposium Jackson Hole bernada hawkish dan kembali memicu ekspektasi bahwa bank sentral dapat menaikkan suku bunga paling cepat pada September. Kondisi tersebut juga mendorong lonjakan tajam nilai tukar dolar AS (USD) dan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor pendek. Menurut perangkat CME FedWatch, pasar kini memperhitungkan peluang sekitar 66 persen untuk kenaikan suku bunga pada September, naik dari sekitar 38 persen sebelum pidato Warsh.

Fokus pasar hari ini adalah rilis data PMI Manufaktur dan JOLTS Job Openings. Sementara itu, fokus utama minggu ini adalah data ketenagakerjaan utama AS, yakni Nonfarm Payrolls, yang akan dirilis pada Jumat.

Dari sentimen dalam negeri, kinerja manufaktur Indonesia kembali mengalami tekanan pada Agustus 2026. Kondisi tersebut tecermin dari S&P Global Indonesia Manufacturing Purchasing Managers’ Index (PMI) yang turun ke level 49,8, dari 50,2 pada Juli 2026.

“Penurunan PMI Manufaktur ke bawah ambang batas 50,0 menunjukkan bahwa kondisi operasional sektor manufaktur kembali mengalami kontraksi setelah sempat mencatatkan ekspansi tipis pada bulan sebelumnya,” kata Ibrahim.

S&P Global mencatat, pelemahan PMI manufaktur pada Agustus terutama dipengaruhi oleh kembali turunnya output dan penyerapan tenaga kerja, yang membalikkan perbaikan yang tercatat pada bulan sebelumnya. Produksi dan ketenagakerjaan manufaktur Indonesia tercatat menurun dalam lima dari enam periode survei terakhir.

Indonesia mencatat inflasi sebesar 0,21 persen secara bulanan (month to month/MtM) pada Agustus 2026, setelah sebelumnya mencatat deflasi 0,14 persen pada Juli 2026.

Pada Agustus 2026, Indonesia mencatat inflasi 3,19 persen secara tahunan. Secara tahun kalender, terjadi inflasi 1,86 persen (year to date). Kemudian, Indeks Harga Konsumen meningkat dari 111,73 pada Juli 2026 menjadi 111,97 pada Agustus 2026.

Selain itu, neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus pada Juli 2026 sebesar USD120 juta, setelah sempat mengalami defisit pada Juni 2026 sebesar USD450 juta.

Indonesia mencatat ekspor Juli 2026 mencapai USD26,22 miliar atau naik 6,05 persen dibandingkan dengan Juli 2025 (year on year/YoY). Nilai ekspor migas tercatat mencapai USD0,79 miliar atau turun 14,58 persen, sedangkan nilai ekspor nonmigas naik 6,84 persen dengan nilai pada Juli 2026 sebesar USD25,45 miliar.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.740-Rp17.790 per dolar AS.

(Feby Novalius)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Finance lainnya