Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.693 per Dolar AS

Anggie Ariesta , Jurnalis-Jum'at, 28 Agustus 2026 |15:41 WIB
Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.693 per Dolar AS
Rupiah Hari Ini (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat 51 poin atau sekitar 0,29 persen ke level Rp17.693 per dolar AS pada akhir perdagangan Jumat (28/8/2026).

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa salah satu sentimen datang dari eksternal yakni mengutip sumber-sumber yang mengetahui masalah tersebut, laporan Wall Street Journal menyebutkan bahwa pemerintahan Trump telah berulang kali menyampaikan kepada para mediator bahwa mereka tidak berminat menghidupkan kembali nota kesepahaman bulan Juni, sehingga mempersulit upaya diplomatik untuk memulai kembali perundingan.

“Sebelumnya pada hari Kamis, Washington menyatakan tidak sedang melakukan pembicaraan dengan Iran, terlepas dari upaya diplomatik negara-negara lain untuk mempertemukan kembali kedua belah pihak,” tulis Ibrahim dalam risetnya.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik meningkat setelah Moskow memperingatkan bahwa mereka dapat menyerang target militer Inggris baik di dalam maupun di luar Ukraina sebagai tanggapan atas serangan Kyiv terhadap wilayah Rusia menggunakan rudal jelajah jarak jauh pasokan Inggris. 

Namun, Trump mengatakan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin tidak akan menyerang negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), dan ia menepis laporan media yang menyebutkan bahwa Direktur CIA John Ratcliffe pekan ini telah memperingatkan para pejabat Rusia agar tidak melakukan serangan semacam itu.

Pasar berhati-hati menjelang pidato Warsh, yang dijadwalkan pada pukul 10.00 pagi waktu setempat (14.00 GMT) hari Jumat. Pidato besar pertamanya sebagai Ketua Fed di Jackson Hole ini dipantau ketat untuk mencari sinyal mengenai inflasi dan untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah suku bunga AS.

Data terbaru telah memperumit prospek pelonggaran moneter. Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), tolok ukur inflasi pilihan Fed, naik 3,7 persen dalam periode satu tahun hingga Juli, yang memperkuat spekulasi bahwa bank sentral dapat menaikkan suku bunga tahun ini. Pasar memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga sebesar 34 persen pada bulan September dan probabilitas 74 persen untuk kenaikan pada bulan Desember, menurut perangkat CME FedWatch.

 

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement