Dari sentimen dalam negeri, pasar merespon positif terhadap Komisi XI DPR RI secara resmi telah menyetujui dan menetapkan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) terpilih untuk periode 2026–2031. Keputusan ini diambil melalui musyawarah mufakat pada Kamis, 27 Agustus 2026, setelah Destry menjalani uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test).
Destry Damayanti, yang sebelumnya menjabat sebagai Pejabat Gubernur Sementara (Pjs) BI menyusul mundurnya Perry Warjiyo, diusulkan oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai calon tunggal. Dengan keputusan ini, ia selangkah lagi mencetak sejarah sebagai perempuan pertama yang memimpin Bank Indonesia secara definitif.
Pelaku pasar cenderung menahan diri dari mengambil posisi agresif sebelum melihat angka inflasi resmi yang dijadwalkan rilis pekan depan. Data inflasi ini menjadi indikator krusial bagi Bank Sentral dalam menentukan arah kebijakan moneter dan suku bunga ke depan. Inflasi yang terkendali dapat membuka ruang bagi pelonggaran kebijakan, sementara inflasi yang tinggi akan memaksa suku bunga tetap ketat.
Selain itu, rilis data perdagangan bulan Juli sering kali memicu kekhawatiran terhadap harga pangan karena angka-angka tersebut mencerminkan kondisi pasokan, permintaan, dan biaya distribusi pangan di tingkat global maupun domestik. Jika data menunjukkan lonjakan impor pangan, artinya pasokan dalam negeri sedang menipis atau tergantung pada negara lain serta melemahnya mata uang rupiah dalam laporan perdagangan membuat biaya impor pangan menjadi lebih mahal.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup menguat dalam rentang Rp17.690-Rp17.750 per dolar AS. Untuk perdagangan pekan depan berada di kisara Rp17.600-Rp17.900 per Dolar AS.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.