Bidik 500.000 Ton Pengurangan Emisi di RI dengan 23 Pabrik Tapioka

Feby Novalius, Jurnalis
Jum'at 04 September 2026 17:10 WIB
Bidik 500.000 Ton Pengurangan Emisi di RI dengan 23 Pabrik Tapioka. (Foto :Okezone.com/Paleoplan)
Share :

JAKARTA - Pengembangan proyek karbon dan investasi hijau berbasis sektor pertanian, agroindustri, dan peternakan dipercepat di Provinsi Lampung.

Hal ini melalui kolaborasi kemitraan investasi proyek methane removal project pengolahan limbah cair antara PT ESGIN Global Partners (ESGIN) dengan 23 pabrik tepung tapioka di Lampung yang tergabung dalam Perhimpunan Pengusaha Tepung Tapioka Indonesia (PPTTI).

Pipeline awal proyek tersebut diperkirakan memiliki potensi pengurangan emisi secara akumulatif sekitar 500.000 ton CO₂e, terutama melalui pengurangan emisi metana dari pengolahan air limbah industri tapioka.

CEO ESGIN Global Partners Brandon Keam mengatakan, Lampung memiliki basis pertanian dan agroindustri yang kuat untuk dikembangkan menjadi ekosistem proyek iklim dan investasi hijau.

"Lampung memiliki potensi besar dari sektor pertanian, peternakan, dan agroindustri. Kami ingin menghubungkan potensi tersebut dengan teknologi rendah karbon, green investment, dan carbon markets sehingga pengurangan emisi tidak hanya memberikan dampak lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi baru bagi industri, petani, dan daerah,” ujarnya dalam keterangannya, Jakarta, Jumat (4/9/2026).

23 Pabrik Tapioka Masuk Pipeline Proyek Karbon

Industri tapioka memiliki peluang pengembangan proyek karbon karena air limbah dengan kandungan bahan organik tinggi dapat menghasilkan gas metana (CH₄) dalam proses pengolahan anaerobik.

Melalui penerapan teknologi methane capture, destruction, dan utilization, emisi metana dapat dikurangi dan, bergantung pada konfigurasi proyek, dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan.

ESGIN akan mengintegrasikan pengembangan teknologi tersebut dengan Digital Monitoring, Reporting and Verification (Digital MRV), carbon accounting, pengembangan proyek karbon, serta akses terhadap pembiayaan hijau dan pasar karbon.

Berdasarkan identifikasi awal, pipeline 23 pabrik anggota PPTTI tersebut diperkirakan memiliki potensi pengurangan emisi secara akumulatif sekitar 500.000 ton CO₂e.

Angka tersebut merupakan estimasi awal potensi pengurangan emisi. Volume pengurangan emisi terverifikasi dan kredit karbon yang dapat diterbitkan akan ditentukan setelah proyek melalui studi kelayakan, penetapan baseline, pemilihan metodologi, monitoring, validasi, verifikasi, registrasi, serta pemenuhan regulasi yang berlaku.

Tak hanya industri tapioka, ekspansi ESGIN di Lampung juga menyasar ke sektor peternakan. Perseroan menandatangani Memorandum of Agreement dengan PT Juang Jaya Abdi Alam untuk mengembangkan biochar berbahan kotoran sapi dan biomassa jerami padi.

Dengan basis populasi sekitar 20.000 ekor sapi, kolaborasi tersebut menargetkan pengembangan kapasitas produksi biochar hingga sekitar 30.000 ton per tahun. 

Kapasitas dan realisasi akhir akan ditentukan berdasarkan hasil studi kelayakan, ketersediaan dan karakteristik bahan baku, konfigurasi teknologi, serta pengujian kualitas produk.

Biochar yang dihasilkan diarahkan untuk dimanfaatkan sebagai pembenah tanah (soil amendment) guna mendukung peningkatan kualitas tanah dan praktik pertanian berkelanjutan. Proyek tersebut juga akan dikaji potensinya sebagai carbon removal project, dengan memperhatikan metodologi carbon accounting, ketahanan penyimpanan karbon, Digital MRV, validasi, verifikasi, serta standar dan regulasi karbon yang berlaku.

Menurut Brandon Keam, kolaborasi tersebut menjadi contoh penerapan ekonomi sirkular yang menghubungkan sektor peternakan dan pertanian.

“Melalui kolaborasi ini, kami ingin mentransformasikan kotoran ternak dan jerami padi menjadi biochar yang memiliki nilai bagi pertanian sekaligus berpotensi memberikan manfaat iklim. Model ini menghubungkan waste management, soil improvement, carbon removal, dan green investment dalam satu ekosistem ekonomi sirkular,” kata Brandon.

Sejalan dengan itu, ESGIN juga menjajaki pengembangan proyek karbon di sektor persawahan Lampung melalui metode Alternate Wetting and Drying (AWD). Pendekatan tersebut mengatur periode penggenangan dan pengeringan sawah secara terkontrol yang berpotensi mengurangi emisi metana dan meningkatkan efisiensi penggunaan air.

(Feby Novalius)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya