Ibrahim memproyeksikan harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) pada pekan depan akan bergerak di kisaran USD91,60 hingga USD103,50 per barel. Gangguan aktivitas pelayaran pada jalur laut strategis di Timur Tengah menjadi salah satu penopang kenaikan harga minyak tersebut.
"Ini yang membuat harga minyak mentah terus mengalami kenaikan yang cukup signifikan," kata dia.
Melambungnya harga minyak mentah memicu ancaman peningkatan inflasi global. Risiko ini berpotensi memengaruhi ekspektasi investor terkait arah kebijakan suku bunga acuan bank sentral AS (The Fed).
Jika The Fed mengambil opsi pengetatan moneter lanjutan atau menahan suku bunga di level tinggi, penguatan dolar AS diperkirakan berlanjut dan kian menekan mata uang negara-negara berkembang (emerging markets), termasuk rupiah.
(Feby Novalius)