Ketika Kekayaan Bumi Tak Lagi Pergi sebagai Bahan Mentah

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis
Minggu 20 September 2026 14:30 WIB
Ketika Kekayaan Bumi Tak Lagi Pergi sebagai Bahan Mentah (Foto: MIND ID)
Share :

Mengejar Rantai Nilai Industri Masa Depan

Nikel menjadi contoh lain bagaimana perjalanan hilirisasi terus bergerak. Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal mengatakan perkembangan industri nikel Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan peningkatan tingkat hilirisasi.

Pada fase awal, pengolahan banyak berhenti pada produk antara seperti nickel pig iron (NPI) dan ferronickel. Kini rantainya mulai bergerak menuju produk untuk industri baterai.

Namun, tantangan berikutnya bukan sekadar meningkatkan volume pengolahan. Industri perlu bergerak menuju produk dengan nilai tambah dan tingkat teknologi yang lebih tinggi.

Faisal mencatat sekitar 71 persen pemanfaatan nikel Indonesia masih mengarah ke industri baja nirkarat atau stainless steel, sementara kontribusi nikel untuk industri baterai baru sekitar 3 persen.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan hilirisasi masih panjang. Di sisi lain, rantai nilai baterai membuka peluang untuk membawa mineral Indonesia lebih jauh.

Head of Strategy and Business Development PT Vale Indonesia Tbk Mateus Sigit Hari Sulistya menjelaskan rantai pengolahan dapat bergerak dari sumber daya, cadangan, pertambangan dan pemrosesan menuju mixed hydroxide precipitate (MHP), kemudian precursor cathode active material (PCAM), cathode active material (CAM), hingga material baterai.

"Inilah integrated value chain, dari resource, reserve, mining, processing, MHP, kemudian precursor atau PCAM, setelah itu CAM, sebelum diproduksi menjadi battery material," katanya.

Tantangannya adalah memastikan Indonesia tidak hanya menjadi pemasok mineral untuk industri global, tetapi mampu mengambil posisi lebih jauh dalam rantai tersebut.

Direktur Utama Indonesia Battery Corporation Aditya F Arif mengatakan, Indonesia perlu mengambil peran lebih jauh dalam pengembangan teknologi baterai agar mineral domestik tetap relevan dalam rantai pasok baterai global. 

Menurutnya, nikel masih memiliki prospek dalam teknologi baterai masa depan meski pasar saat ini didominasi lithium iron phosphate (LFP). Teknologi nickel manganese cobalt (NMC) masih memiliki ruang pengembangan, terutama menuju chemistry dengan kadar nikel lebih tinggi seperti NMC 811 dan NMC 955. 

Pengembangan tersebut diarahkan untuk meningkatkan tegangan, kemampuan pengisian cepat atau rapid charging, serta power density baterai. Teknologi NMC juga memiliki keunggulan dari sisi energy density sehingga dapat menyimpan energi lebih besar dalam volume yang sama.

“Karakteristik ini membuat NMC berpotensi tetap digunakan pada kendaraan listrik karena dapat menghasilkan baterai dengan kapasitas energi tinggi sekaligus bobot kendaraan yang lebih ringan,” katanya.

Sebab, kedaulatan mineral pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki cadangan. Ia juga ditentukan oleh siapa yang mampu menguasai teknologi untuk mengolahnya menjadi produk bernilai tinggi.

Ketika Nilai Bumi Kembali kepada Negeri

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pengelolaan mineral tidak hanya terlihat dari apa yang diproduksi perusahaan. Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: seberapa besar nilai ekonomi yang kembali kepada negara dan masyarakat?

Berdasarkan Sustainability Report 2025, MIND ID mencatat nilai ekonomi yang didistribusikan kepada masyarakat dan pemangku kepentingan mencapai Rp180,30 triliun sepanjang 2025.

Pada tahun yang sama, pembayaran kewajiban kepada pemerintah mencapai Rp32,82 triliun, yang mencakup dividen, pajak dan kewajiban lainnya.

Division Head of Sustainability MIND ID Binahidra Logiardi mengatakan sebagai BUMN, MIND ID memiliki peran sebagai agent of development.

"Sebagai BUMN, kami adalah agent of development sehingga dampak ekonomi menjadi sangat penting. Kami mendukung program pemerintah untuk mendorong kedaulatan ekonomi nasional," ujarnya.

Angka tersebut menunjukkan bahwa perjalanan sebuah mineral tidak berhenti ketika keluar dari tambang atau ketika sebuah produk meninggalkan fasilitas pengolahan. Nilai itu dapat terus mengalir melalui industri, pekerja, penerimaan negara, teknologi, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.

Pada akhirnya, kekayaan terbesar Indonesia bukan hanya apa yang tersimpan jauh di bawah tanah. Kekayaan itu adalah kemampuan mengubah apa yang diberikan bumi menjadi nilai yang tetap tinggal di negeri.

Sebab dari bumi, Indonesia tidak hanya menggali mineral. Indonesia sedang membangun nilai, industri, dan pada akhirnya, kedaulatan negeri.

(Dani Jumadil Akhir)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya