JAKARTA — Nelayan di Bali mulai menggunakan kapal listrik untuk mendukung aktivitas melaut dan wisata. Penggunaan kapal bertenaga listrik tersebut dapat menekan biaya operasional sekaligus mengurangi kebisingan yang berpotensi mengganggu ekosistem mangrove.
Kapal listrik yang dioperasikan Kelompok Usaha Bersama (KUB) Tanjung Sari mendapat fasilitas pengisian daya yang memanfaatkan panel surya berkapasitas 8,72 kilowatt peak (kWp). Fasilitas tersebut digunakan untuk mengisi 10 baterai dan mengoperasikan lima mesin kapal listrik.
Anggota KUB Tanjung Sari, I Wayan Wirtha, mengatakan penggunaan kapal listrik membuat biaya operasional lebih rendah dibandingkan sebelumnya. Pengeluaran untuk bahan bakar yang sebelumnya mencapai sekitar Rp600.000 per bulan kini turun menjadi sekitar Rp200.000 sebagai biaya cadangan.
“Selain mendapat tambahan penghasilan dari ecotrip, biaya operasional kami juga jauh lebih hemat. Dulu pengeluaran untuk bahan bakar bisa mencapai Rp600.000 per bulan, sekarang sekitar Rp200.000 saja sebagai cadangan,” ujar Wirtha, Kamis (24/9/2026).
Selain digunakan untuk aktivitas nelayan, kapal listrik dimanfaatkan untuk membawa wisatawan menyusuri kawasan mangrove di Desa Kelan. Kapal yang beroperasi lebih senyap dinilai dapat mengurangi potensi gangguan terhadap habitat berbagai jenis burung di kawasan tersebut.
Pemanfaatan kapal listrik juga membuka peluang pendapatan tambahan bagi nelayan melalui wisata susur mangrove atau mangrove ecotrip. Nelayan dapat memperoleh pendapatan hingga Rp350.000 untuk setiap perjalanan.
Pjs. Corporate Secretary PT Pertamina International Shipping (PIS) Vega Pita menilai, penggunaan energi yang lebih bersih perlu berjalan seiring dengan keberlanjutan lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.
“PIS meyakini bahwa masa depan masyarakat pesisir dan kesehatan ekosistem laut saling berkaitan. Melalui akses energi yang lebih bersih dan pemberdayaan yang berkelanjutan, kami ingin mendukung masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan tanpa mengorbankan lingkungan yang menjadi sumber penghidupan mereka,” ujar Vega.
Menurut Vega, keberlanjutan di kawasan pesisir tidak hanya berkaitan dengan aktivitas ekonomi, tetapi juga dengan dampaknya terhadap masyarakat dan lingkungan. Pemanfaatan energi yang lebih bersih menjadi salah satu upaya untuk menjaga keseimbangan tersebut.
Penggunaan energi listrik untuk kapal menjadi salah satu alternatif dalam mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak pada aktivitas transportasi di kawasan pesisir. Selain menekan biaya operasional, tingkat kebisingan kapal listrik yang lebih rendah juga dapat mendukung aktivitas wisata di kawasan yang memiliki ekosistem sensitif.
Penggunaan kapal listrik menunjukkan pemanfaatan energi alternatif dapat diterapkan pada aktivitas ekonomi masyarakat pesisir. Selain mendukung efisiensi biaya operasional, teknologi tersebut dapat digunakan untuk aktivitas wisata yang membutuhkan tingkat kebisingan lebih rendah.
(Feby Novalius)