JAKARTA - Kecerdasan buatan (AI) dan inovasi kesehatan dinilai berpotensi menjadi dua mesin pertumbuhan baru ekonomi global sekaligus membuka peluang investasi jangka panjang di berbagai sektor industri. Namun, investor perlu mencermati kualitas bisnis, kemampuan menghasilkan arus kas, dan valuasi perusahaan agar potensi pertumbuhan tersebut sejalan dengan risiko investasi.
"AI dan inovasi kesehatan merupakan dua perubahan struktural yang berpotensi membentuk pertumbuhan ekonomi global ke depan. Namun, investor tetap perlu melakukan kajian mendalam untuk menilai perusahaan dari berbagai aspek, termasuk posisi kompetitif, kemampuan menghasilkan arus kas, kualitas manajemen, dan prospek pertumbuhan," ujar Investment Specialist Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Dimas Ardhinugraha dalam keterangannya, Rabu (21/10/2026).
Permintaan besar untuk ragam industri penunjang dalam infrastruktur AI mendukung aktivitas industri di berbagai negara dan menopang kinerja perdagangan global, memitigasi dampak negatif dari kondisi perang dan konflik tarif dagang. Potensi lain dari kemajuan AI tak hanya berdampak positif terhadap perusahaan pengembangnya saja. Adopsi AI yang meluas berpotensi meningkatkan efisiensi berbagai industri melalui pengolahan data yang lebih cepat, membantu pengambilan keputusan, dan menciptakan produk atau layanan baru.
"Oleh karena itu, manfaat ekonominya berpotensi menyebar dari perusahaan penyedia teknologi kepada perusahaan yang berhasil mengadopsinya," katanya.
Meski demikian, perkembangan teknologi dapat berlangsung cepat dan persaingannya sangat ketat. Perusahaan yang menjadi pemimpin saat ini belum tentu dapat mempertahankan posisinya jika tidak terus berinovasi. Sebaliknya, perusahaan dengan teknologi yang menarik belum tentu mampu menerjemahkannya menjadi model bisnis yang menguntungkan.
“Dalam investasi di sektor teknologi, yang perlu diperhatikan bukan hanya seberapa canggih sebuah inovasi, tetapi juga apakah perusahaan mampu mengubah inovasi tersebut menjadi pendapatan, keuntungan, dan arus kas yang berkelanjutan. Karena itu, riset fundamental tetap menjadi bagian penting dalam menilai peluang dari AI,” jelas Dimas.
Di sektor kesehatan, peluang pertumbuhan didukung oleh perubahan demografi, meningkatnya usia harapan hidup, dan kebutuhan penanganan penyakit yang semakin kompleks. Inovasi di bidang farmasi, bioteknologi, alat diagnostik, dan peralatan medis berpotensi memperluas pilihan layanan kesehatan sekaligus menciptakan peluang bisnis baru.
“Sektor kesehatan memberikan sumber pertumbuhan yang berbeda dari teknologi. Inovasi obat dan peralatan medis terus berkembang untuk menjawab kebutuhan kesehatan masyarakat, sedangkan perubahan demografi membuat kebutuhan tersebut semakin relevan,” katanya.
Namun, investasi pada sektor kesehatan juga memiliki risiko tersendiri. Keberhasilan suatu produk dapat dipengaruhi oleh banyak faktor semisal hasil penelitian, persetujuan regulator, perlindungan paten, tingkat persaingan, serta kemampuan perusahaan memasarkan inovasinya. Karena itu, seleksi perusahaan harus mempertimbangkan tidak hanya potensi produknya tetapi juga kekuatan finansial dan kemampuan perusahaan mengelola risiko.
“Pelaku utama di industri bukan sekadar perusahaan dengan ukuran terbesar. Bagi kami, perusahaan unggulan adalah perusahaan yang mampu mempertahankan keunggulannya, terus berinovasi, dan mengalokasikan modal secara efektif. Pendekatan yang dinamis diperlukan karena pemimpin hari ini harus terus beradaptasi untuk tetap relevan pada masa mendatang,” kata Dimas.
(Dani Jumadil Akhir)