Sementara itu Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam konferensi persnya mengatakan bahwa pengetatan kebijakan The Fed mulai menunjukkan hasil, meskipun inflasi masih berada di tingkat yang tinggi. Namun, ia menegaskan kembali komitmen komite untuk mencapai stabilitas harga. Ia menekankan bahwa tidak ada istilah "inflasi ringan"; yang ada hanyalah target stabilitas harga, yakni sebesar 2 persen sebagaimana diukur melalui indikator PCE.
Dari sentimen dalam negeri, aksi protes mahasiswa yang semakin marak saat ini dapat meningkatkan ketidakpastian politik dan membuat investor lebih berhati-hati. Aksi tersebut juga menjadi momentum bagi mahasiswa dan masyarakat sipil untuk menyampaikan keresahan terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran yang telah berjalan selama dua tahun.
"Sementara itu, harga minyak di atas USD 100 per barel meningkatkan biaya subsidi BBM dan energi, sehingga menambah beban APBN. Jika kedua kondisi ini berlanjut, tekanan terhadap rupiah, inflasi, dan stabilitas ekonomi Indonesia dapat semakin besar," kata Ibrahim.
Selain itu, pelaku pasar sedang berhati-hati karena menunggu data inflasi Oktober yang akan diumumkan pekan depan. Sebelumnya, inflasi September meningkat menjadi 3,28 persen, yang berarti harga barang dan jasa secara umum mengalami kenaikan.
Jika inflasi Oktober kembali naik, daya beli masyarakat bisa menurun karena kebutuhan sehari-hari menjadi lebih mahal. Selain itu, Bank Indonesia mungkin mempertahankan suku bunga tinggi untuk mengendalikan inflasi.
Akibatnya, pergerakan rupiah dan keputusan investor dapat terpengaruh karena mereka cenderung menunggu kondisi ekonomi lebih jelas sebelum mengambil keputusan.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp18.130-Rp18.180 per dolar AS.
(Taufik Fajar)