Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 mencapai USD146,3 miliar, setara 5,3 bulan pembiayaan impor.
Adapun tingkat inflasi domestik pada September 2026 terkendali pada level 3,3 persen YoY.
Peluang ekspansi ekonomi juga didukung oleh program hilirisasi industri, di mana nilai realisasi investasi hilirisasi berhasil menembus Rp480 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026.
Aktivitas ini secara langsung mengerek kebutuhan terhadap sarana industri, logistik, transportasi, hingga pasokan energi.
Selain itu, investasi pada infrastruktur digital, seperti komputasi awan (cloud), pusat data (data center), dan ekosistem kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), menjadi salah satu pilar pertumbuhan ekonomi di Indonesia dan kawasan ASEAN.
Wealth Management Advisory Head OCBC Indonesia, Diamond Stole menambahkan bahwa potensi pertumbuhan ekonomi nasional dan regional memberikan kesempatan jangka panjang bagi nasabah dalam mengelola serta mengumpulkan kekayaan.
“Dengan pendampingan yang personal, kami membantu nasabah menjaga arah untuk menuju tujuan finansial mereka,” kata Diamond.
Sejalan dengan optimisme tersebut, total aset kelolaan (Asset Under Management/AUM) layanan wealth management OCBC menembus Rp374 triliun per Juni 2026, atau tumbuh 13 persen YoY.
Penguatan bisnis wealth management OCBC mengombinasikan integrasi saluran digital melalui fitur Wealth Discovery dan For Your Investment (FYI) di aplikasi OCBC Mobile dengan pendampingan personal bagi seluruh tingkatan nasabah, mulai dari segmen Nyala, Premier, hingga Private Banking.
(Taufik Fajar)