Share

Liku-Liku Penangkaran Benih

Trust, Jurnalis · Sabtu 26 Januari 2008 15:32 WIB
https: img.okezone.com content 2008 01 26 19 78349 OjLLaZgt40.jpg

JAKARTA - Konglomerat Tomy Winata termasuk salah satu pengusaha yang antusias mengembangkan pola penanaman plasma.

Melalui PT Sumber Alam Sutera (dulu bernama PT Sumber Alam Sultra), ia mengembangkan benih padi hibrida di Tulang Bawang, Lampung, dan Kendari, Sulawesi Tenggara. PT SAS bertindak sebagai penyedia bibit padi, sekaligus pembeli hasil panen.

Tomy mengaku terinspirasi sistem pertanian yang dikembangkan di China. Di sana, kata Heka, padi hibrida sudah dikembangkan sejak 1970. Kemampuan produksinya mencapai 20 ton per hektare membuat penasaran chairman kelompok Artha Graha itu. Selain China, negeri tetangga seperti Vietnam, Filipina, dan India juga ikut menggunakan benih serupa. Maka, pada 2002, Tomy pun tebersit ide untuk ikut mengembangkannya di Indonesia.

Tak sampai setahun, kemudian ia mendirikan PT SAS, di Kendari, Sulawesi Tenggara. Untuk menopang usahanya, PT SAS menjalin kerja sama dengan Balai Besar Padi Sukamandi. Di lembaga riset pertanian terbesar di Indonesia itu, benih hibrida dikembangkan sebelum dipasarkan ke petani. Selain dengan Balai Besar Padi Sukamandi, Tomy juga menjalin kerja sama dengan Guo Hao Seed Industries.

Nama yang terakhir ini adalah satu dari 15 perusahaan benih terbesar di China. Dari perusahaan ini pula sebanyak 1.000 ton benih hibrida diekspor ke Vietnam.

Di Kendari, kata Heka, bibit yang dipasarkan PT SAS sudah diuji coba di lahan yang sangat tandus. Hasilnya memuaskan, delapan hingga sembilan ton per hektare. Benih serupa juga dipamerkan di lahan pasang surut di Rawa Jita, Kabupaten Tulang Bawang, Lampung.

Di lahan yang paling tak diminati para petani itu hasil panennya bisa mencapai 8-12 ton per hektare. "Kalau di lahan yang tandus dan pasang surut saja hasilnya baik, apalagi di lahan pertanian irigasi," kata Heka.

Hingga akhir 2006 perusahaan itu mampu memenuhi kebutuhan bibit padi hibrida untuk 10 ribu hektare sawah. Saat ini, Tomy telah menyebar bibitnya di Lampung dengan luas 1.700 hektare, Nusa Tenggara Barat (25 hektare), Bali (11 hektare), Singkawang, Kalimantan Barat (20 hektare), dan Jambi (36 hektare). Tahun depan perusahaan ini menargetkan bisa menyuplai bibit padi hibrida untuk 100 ribu hektare sawah.

PT SAS membanderol benih hibridanya Rp50 ribu per kilogram. Bila setiap hektare sawah membutuhkan 15 kilogram bibit, berarti petani harus mengeluarkan ongkos Rp750 ribu. Heka mengatakan, perusahaannya juga melakukan pendampingan bagaimana benih itu ditanam hingga masuk masa panen. Setelah itu, "Hasilnya kami beli mengacu pada harga pasar," katanya.

Menurut Heka, Rp50 ribu per kilogram bukanlah harga premium. Biaya itu sama saja dengan mengembangkan benih padi biasa. Mulai dari bibit, pengolahan lahan, perawatan, hingga pascapanen, biaya yang dibutuhkan sekitar Rp3-5 juta per hektare.

"Relatif sama dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk padi konvensional, tetapi dengan hibrida hasilnya lebih tinggi sekitar 20-40 persen," ujarnya.

Untuk mengurangi beban petani, PT SAS juga mulai melibatkan mereka dalam penangkaran benih. Hasilnya ditampung perusahaan. Jadi, selama menunggu masa panen mereka bisa kerja sambilan menangkar benih. "Jadi, mereka tak buru-buru menjual padinya kepada pengijon atau tengkulak," kata Heka.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini