SURABAYA - Serial Upin dan Ipin, yang mulai populer di Indonesia setahun terakhir lewat tayangan di Televisi Pendidikan Indonesia (TPI), Youtube dan CD serta DVD, pun membuat ”wilayah” lain tertarik mengadopsi kedua tokoh ini.
Sekarang karakter dua bocah lucu dari Negeri Jiran itu telah menjelma dalam bentuk boneka. Peminatnya pun bejibun, tak hanya anak-anak,tapi juga para remaja putri dan mahasiswi.
Dimas Iqbal Maulana, 11, salah satu pengunjung Royal Plaza, Surabaya, Jawa Timur, yang siang kemarin memborong sepasang boneka Upin dan Ipin, mengaku terpikat dengan kedua tokoh itu sejak setahun lalu, atau ketika di awal serial ini menyapa pemirsa di Indonesia.
”Upin dan Ipin itu lucu, agak bandel tapi mengajak pada hal yang benar,” kata siswa kelas VI SD Babat I Lamongan ini, kemarin.
Kepala Upin dan Ipin yang plontos dengan seuntai rambut selalu tampak sangat menggelikan, kendati pun keduanya belum bicara. Pandangan mata yang kadang-kadang nakal, kata Dimas, membuatnya tidak pernah melewatkan tayangan serial berlogat Melayu ini. "Apalagi kalau sudah bicara ‘betul betul betul’, saya pasti ketawa,” kata Dimas, menirukan Upin.
Dengan adanya boneka, Dimas semakin bisa membayangkan kalau Upin dan Ipin hadir dalam kehidupan nyata, bukan hanya dalam film animasi.
Indah, salah satu penjual boneka Upin dan Ipin di salah satu sudut pameran di Royal Plaza mengaku peminat boneka lucu ini sangat tinggi. Mulai dari balita, anakanak, hingga remaja bahkan mahasiswi berduyun-duyun ingin memilikinya.
”Kalau yang anak sampai merengek-rengek, kalau yang mahasiswi biasanya agak malu-malu tapi beli juga akhirnya,” katanya.
Dengan banderol harga promo sebesar Rp20.000 tiap boneka, gimmick ini memang menarik untuk dikoleksi. Belum lagi dengan cerita yang memang tokohnya berpasangan, boneka Upin dan Ipin rata-rata dibeli bersamaan. Artinya,dengan menawarkan Upin, Ipin biasanya juga ikut terjual, atau sebaliknya. Indah enggan membeberkan jumlah boneka Upin dan Ipin yang telah terjual.
Dia hanya memastikan sudah banyak boneka yang dibawa pulang oleh pengunjung Royal Plaza. ”Barangnya baru datang tadi (kemarin) pagi.Tapi sudah banyak yang dibeli orang-orang,” katanya.
Suwarno, 45, ayah Dimas tidak mempermasalahkan keinginan anaknya memiliki boneka kain berukuran sekitar 30 sentimeter ini.
Pasalnya, kedua tokoh itu punya sisi-sisi karakter yang patut ditiru. Apalagi kalau seluruh jalan cerita diikuti utuh,banyak pelajaran yang bisa didapat oleh anak-anak. Tentang kejujuran, perkawanan, persaudaraan hingga beramal soleh.
”Saya nggak pernah melarang nyetel Upin dan Ipin. Kalau sinetron dewasa yang mbulet, itu jelas kami larang keras untuk ditonton,” katanya. (dili eyato)
(Rani Hardjanti)