Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Metindo Bangun Pabrik Senilai Rp50 Miliar

Sandra Karina , Jurnalis-Rabu, 28 Juli 2010 |17:09 WIB
Metindo Bangun Pabrik Senilai Rp50 Miliar
Ilustrasi. Foto: Koran SI
A
A
A

BEKASI - Perusahaan komponen otomotif nasional PT Metindo Era Sakti melakukan ekspansi melalui pembangunan pabrik dies and tools center di kawasan Bekasi.

Presiden Direktur PT Metindo Era Sakti Iman Santoso mengatakan, nilai dari pembangunan dies and tools center tersebut adalah sekitar Rp50 miliar. "Pabrik ini lebih komplit, terutama dari segi mesin dan software yang digunakan lebih canggih, dan ini merupakan salah satu yang lumayan lebih lengkap di Indonesia," kata Iman di Bekasi, Rabu (28/7/2010).

Menurutnya, dalam melakukan ekspansi tersebut, pihaknya tidak menemukan kesulitan apapun. "Untuk sekarang ini, tidak ada kendala, tapi saya tetap meminta dukungan pemerintah dan perbankan," ucapnya.

Sementara itu, Division Head Engineering PT Metindo Era Sakti Tunggul Sudomo menjelaskan, ekspansi tersebut akan meningkatkan kapasitas produksi menjadi sebanyak 50 unit dies per bulan, dari 20 unit dies per bulan.

"Dies itu adalah komponen utama yang terbuat dari baja, dan menghasilkan ribuan komponen dengan bentuk dan dimensi yang identik," jelas Tunggul.

Tunggul menuturkan, setelah melakukan ekspansi, akan meningkatkan produksi sebanyak 2,5 kali lipat dari tahun lalu yakni 265 unit dies. "Presentasenya adalah, untuk mobil 40 persen, dan motor 60 persen," ujarnya.

Tunggul menambahkan, permintaan terbanyak datang dari prinsipal Yamaha untuk motor, dan Daihatsu untuk mobil. "Saya tidak ingat berapa jumlah permintaannya, tapi yang jelas tahun ini meningkat sekitar 30 persen dari tahun lalu," tukas Tunggul.

Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat mengatakan, ekspansi yang dilakukan oleh PT Metindo Era Sakti, merupakan bukti bahwa tidak terjadi adanya gejala deindustrialisasi di sektor industri otomotif nasional.

"Ini kan industri dasar yang menggunakan bahan dasar logam yang sekaligus memberikan value added kepada hasil produknya yang dibutuhkan oleh industri dalam negeri dalam rangka menunjang industri otomotif, jadi secara langsung dia menjawab gejala deindustrialisasi di sektor ini enggak ada, buktinya sekarang dia melakukan ekspansi , jadi industri penunjang otomotif nasional membuktikan bisa dilakukan di Indonesia, dan step berikutnya kita akan memasuki industri  yang berbasis produksi engine di Indonesia untuk produksi mobil, dimana dua tahun lagi mungkin mobil kecil dulu, jadi semunya dibikin disini," papar Hidayat.

Menurutnya, mould and dies merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam menghasilkan komponen-komponen kendaraan bermotor.

"Sehingga penguasaan teknologi mould and dies merupakan hal penting dan strategis yang harus dikuasai oleh perusahaan komponen dalam negeri, sehingga akan mengurangi ketergantungan industri nasional terhadap produk luar dan dapat menghembat devisa negara," kata Hidayat.

Dalam rangka mendukung industri otomotif dalam lima tahun kedepan, lanjutnya, pemerintah secara konsisten telah dan akan menerapkan kebijakan yang antara lain difokuskan pada pengembangan dan pengamanan pasar domestik melalui restrukturisasi bea masuk (BM) , larangan impor kendaraan bukan baru, penanganan penyelundupan dan pemalsuan komponen, penggunaan SNI, promosi penggunaan produk domestik, penundaan kenaikan pajak kendaraan, dan kebijakan lainnya.

"Dalam hal meningkatkan daya saing industri industri otomotif nasional, pemerintah memberikan fasilitas kemudahan BM bahan baku komponen, mendorong investasi dalam bidang research and development, pengembangan standar kompetensi industri otomotif, dan lain sebagainya," jelas Hidayat.

Sementara untuk meningkatkan pasar ekspor, menurutnya, pemerintah antara lain, akan melakukan penyempurnaan peraturan tentang perusahaan dalam kawasan berikat, meningkatkan promosi investasi, penggunaan network global, dan lain sebagainya.

Hidayat menjelaskan, pasar mobil nasional telah mencatat penjualan sebesar 370.208 unit selama periode Januari-Juni 2010, atau lebih besar 77,26 persen dibandingkan periode sama tahun 2009. "Tahun lalu, hanya 208.850 unit," pungkasnya.

(Widi Agustian)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement