Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Industri Pemintalan Sulit Dapatkan Serat Rayon

Sandra Karina , Jurnalis-Selasa, 25 Januari 2011 |19:07 WIB
Industri Pemintalan Sulit Dapatkan Serat Rayon
ilustrasi Foto: Koran SI
A
A
A

JAKARTA - Industri pemintalan nasional sulit mendapatkan bahan baku serat rayon, padahal Indonesia merupakan produsen serat rayon ketiga dunia dengan produksi total sekira 380 ribu ton per tahun. Pasalnya, pada saat ini, produsen rayon nasional kian memprioritaskan penjualan ekspor dibanding penjualan domestik.

Indotextiles mencatat, share penjualan ekspor dari total produksi rayon nasional terus naik dari 29,7 persen pada tahun 2007 menjadi 38,7 persen tahun 2008, lalu 43,9 persen tahun 2009 hingga 45,8 persem di 2010.

Direktur Eksekutif Indotextiles Redma Gita Wirawasta mengatakan, tekanan yang didapatkan industri pemintalan tidak hanya pada minimnya suplai serat rayon namun juga pada harga serat rayon.

"Harga jual ekspor rayon lebih murah dibanding harga jual ke pasar domestik," kata Redma di Jakarta, Selasa (25/1/2011).

Menurut Redma, harga jual rayon adalah sekira USD5-18 per kilogram (kg). Dimana harga jual kedalam negeri lebih mahal dibanding harga jual ekspor. Sedangkan harga serat rayon impor justru lebih mahal USD13-44 per kg dari harga di dalam negeri.

"Memang sedikit aneh jika produsen memprioritaskan pada penjualan ekspor dengan harga yang lebih rendah, namun yang pasti kondisi ini menggerus daya saing benang rayon kita," jelas Redma.

Di Amerika Serikat yang menjadi salah satu pasar utama benang rayon, lanjut Redma, market share benang rayon Indonesia turun dari 49 persen di 2009 menjadi 45 persen di tahun 2010. Meskipun ekspor rayon Indonesia mengalami pertumbuhan sekira 38 persen, namun kalah jauh jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekspor India 143 persen, Spanyol 152 persen, China 80 persen, Taiwan 180 persen dan Thailand 65 persen, mengingat pertumbuhan impor Amerika Serikat yang mencapai hampir 50 persen.

"Artinya pangsa pasar kita di Amerika Serikat diambil negara lain belum lagi di Eropa dan dinegara tujuan ekspor lainnya," tegasnya.

Untuk kembali meningkatkan produk benang rayon, pihaknya menyarankan pemerintah memberlakuan kuota ekspor serat rayon seperti yang dilakukan oleh China dan India pada komoditi kapasnya.

"Hampir semua negara mengatur ekspor bahan bakunya dan mengupayakan proses hilirisasi agar lebih bernilai tambah, jika industri pemintalan kekurangan bahan baku karena rayonnya terus diekspor maka tidak akan terjadi proses hilirisasi dan pertambahan nilai yang lebih baik," tandas Redma.(adn)

(Rani Hardjanti)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement