JAKARTA - International Service for the Acquisition of Agri-Biotech Applications (ISAAA) mengklaim, total lahan yang digunakan untuk tanaman biotek atau tanaman transgenik di seluruh dunia hingga 2010 telah mencapai 1 miliar hektare (ha). Lahan tersebut setara dengan total luas wilayah Amerika Serikat (AS) atau daratan China.
”Hal ini menandakan bahwa tanaman biotek diterima oleh petani di seluruh dunia,” kata pendiri dan Ketua Dewan ISAAA Clive James di acara Seminar Perspektif Global Tanaman Biotek/Rekayasa Genetika:2010 di Kantor Kementerian Pertanian, Senin (14/3/2011).
Dibandingkan 15 tahun lalu, tepatnya 1996, sejak teknologi ini dikomersialisasi, luas lahan yang digunakan mengalami kenaikan 87 kali lipat. Hal ini menempatkan tanaman transgenik merupakan jenis teknologi yang paling cepat diadopsi dalam sejarah pertanian modern.
Sementara itu, jumlah negara yang menanam tanaman biotek mencapai 29 negara, di mana pada 2009 baru 25 negara. ”Tiga negara baru yakni Pakistan, Myanmar dan Swedia dilaporkan menanam tanaman biotek secara resmi untuk pertama kalinya pada 2010, disusul kemudian Jerman,” kata Clive.
Dari 29 negara yang membudidayakan tanaman biotek tersebut, 19 negara di antaranya merupakan negara berkembang dan hanya 10 negara merupakan negara industri. Di samping itu, 30 negara lainnya mengimpor produk tanaman biotek untuk digunakan sebagai bahan pangan, pakan dan energi.
”Sehingga secara keseluruhan terdapat 59 negara yang menyetujui penggunaan tanaman biotek. Ini meliputi tiga perempat penduduk dunia, karena sebanyak 75 persen populasi penduduk dunia menetap di 59 negara tersebut,” tutur Clive.
Lima negara berkembang diketahui sebagai pemain utama dalam komersialisasi tanaman biotek adalah China, India, Brasil, Argentina dan Afrika Selatan. Brasil merupakan pusat pertumbuhan tanaman transgenik di Amerika Latin, di mana peningkatan luas lahan tanaman bioteknya melebihi negara-negara lain dengan peningkatan luas lahan empat juta hektar.
Di Australia, tanaman transgenik kembali pulih setelah mengalami kekeringan dengan proporsi kenaikan per tahunnya sebesar 184 persen dengan luas tanaman mencapai 653.000 hektare. Kendati mulai diterima masyarakat dunia, namun keberadaan tanaman transgenik ini masih menuai pro dan kotra. Sebagian masyarakat tidak menyetujui tanaman transgenik karena adanya kekhawatiran akan terjadinya perubahan lingkungan atau ekosistem. Mereka takut padi emas yang ditanam dapat menularkan sifat mutasinya ke tanaman alami lain.
(Widi Agustian)