JAKARTA - Saat ini memang sedang menjamur segala hal yang dikaitkan dengan konsep hijau atau yang serba ramah lingkungan. Aspek gaya hidup berpengaruh amat besar dalam tren green, masyarakat pun seolah latah terhadap tren hijau belakangan ini.
Tentu saja, hal tersebut juga berimbas langsung pada segi properti yang kian marak pembangunan dengan iming-iming mengunsung konsep green building.
Menurut Arsitek Denny Hermawan, konsep green building ini seharusnya dipahami dengan baik oleh seluruh lapisan masyarakat. Utamanya bagi orang-orang yang ingin membangun ataupun membeli rumah.
"Harus ada kesepahaman bersama antara si pemilik dengan arsiteknya sebelum menerapkan konsep hijau pada rumah yang akan dibangun. Misalnya dalam desain atau pun material bangunan yang akan dipakai. Jangan sampai persepsi green building pemilik rumah bertolak belakang dengan hasilnya setelah jadi nanti," kata Denny saat berkunjung ke kantor Redaksi Okezone, kemarin.
Banyak pihak yang beranggapan konsep green ini artinya dengan menghemat di segala aspek, mulai dari menghemat energi dan menggunakan material-material yang ramah lingkungan. Namun, pada kenyataannya banyak material tersebut yang terbilang mahal, seperti misalnya untuk menggunakan alat tenaga surya atau memasang insulasi (sistem daur ulang air) pada rumah masing-masing.
Sementara itu, Ketua Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) Banten Rita Laksmitasari pun mengamini hal yang sama, menurutnya, konsep tersebut harus dipahami dengan bijak.
"Untuk menerapkan konsep hijau pada sebuah gedung dan rumah itu berbeda. Di gedung-gedung tinggi misalnya, kita tidak bisa memaksa untuk harus mengurangi pemakaian listrik ataupun AC, karena itu sangat dibutuhkan dalam operasional gedung tersebut jadi tidak mungkin dilakukan," ujar perempuan berjilbab ini.
Keduanya sepakat, untuk menciptakan hunian atau gedung yang berorientasi lingkungan salah satunya adalah meminimalisir pemakaian energi, bukan menghemat dari segi bahan maupun material-material bangunan.
(Rani Hardjanti)