NUSA DUA - Pelemahan nilai tukar Rupiah diperkirakan bakal membuat anggaran belanja subsidi bahan bakar minyak (BBM) membengkak. Pembengkakan belanja subsidi bahkan diperkirakan mencapai Rp50 triliun.
Wakil Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menjelaskan, mengingat besarnya beban subsidi, baik dari nominal maupun politiknya, dia berharap pemerintah bisa mengubah skema subsidi. Bila saat ini subsidi BBM diberikan melalui skema subsidi harga maka mekanisme tersebut diharapkan berganti menjadi subsidi tetap.
Demikian diungkapkan pada acara International Seminar ‘Avoiding The Middle Income Trap:Lesson And Strategies for Indonesia to Grow Equitably and Sustainably, di Nusa Dua, Kamis (12/12/2013).
Artinya, pemerintah memberikan subsidi dengan nilai tetap untuk tiap liter nya. Misalnya, harga 1 liter BBM bersubsidi Rp3.000 nanti apabila harga minyak naik atau turun maka anggaran subsidi tidak akan mengalami pembengkakan.
Melalui skema tersebut maka harga BBM bersubsidi akan berfluktuasi mengikuti harga pasar. Hal tersebut berbeda dengan skema harga yang dipakai saat ini yakni dengan menetapkan harga BBM per liternya.
“Seharusnya kita berpindah dari subsidi harga ke subsidi tetap. Itu langkah pertama agar subsidi BBM tidak menjadi beban. Setelah pendapatan per kapita naik, kita bisa mengubah skema subsidi lagi yang langsung menyasar ke orang tidak lagi ke komoditi (minyak),” tukas dia.
(Martin Bagya Kertiyasa)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.