Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Perbedaan Ritel Modern & Tradisional

Dani Jumadil Akhir , Jurnalis-Selasa, 17 Desember 2013 |17:15 WIB
Perbedaan Ritel Modern & Tradisional
Salah Satu Mall di India (Foto:hrgroup.co.in)
A
A
A

JAKARTA - International Finance Corporation (IFC) mencatatkan sekira 80 persen penjualan ritel di Indonesia merupakan hasil dari penjualan ritel tradisional, dengan nilai sekira USD138 juta.

‪IFC juga mencatat, peritel tradisional juga mampu menyerap 21 persen tenaga kerja di indonesia, dengan komposisi setiap peritel tradisional dikunjungi 50 pelanggan dengan membelanjakan Rp50.000 per hari.

‪‪East Asia and Pacific Regional Advisor for Payments and Retail Banking IFC, Ivan Mortimer-Schutts mengatakan sektor ritel tradisional di Indonesia memiliki dampak yang besar pada peningkatan akses terhadap layanan keuangan dan hasil pembangunan ekonomi.

"Namun, terjadi kesenjangan yang terjadi antara peritel modern dan tradisional di Tanah Air," ucap Ivan di kantor IFC, Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Selasa (17/12/2013).

Menurut Ivan, kesenjangan terjadi karena terdapat di sisi pembayaran, peritel modern telah mengadopsi pembayaran secara digital (e-money) sedangkan peritel tradisional belum.

‪"Dengan kesenjangan digital yang terjadi pada proses pembayaran rantai distribusi, akan membatasi potensi ritel tradisional untuk memberikan dampak pada pengembangan ekonomi," kata Ivan.

Saat ini kesenjangan antara peritel modern dan peritel tradisional adalah, peritel modern memiliki rantai distribusi yang terintegrasi secara digital sehingga menciptakan sinergi di antara penggunanya. Standar bersama membuat informasi yang mengalir lebih efektif di antara pemasok, peritel dan bank untuk meningkatkan visibilitas, efisiensi dan proses otomasisasi.

‪Sedangkan peritel tradisional, biasanya berbasis uang tunai dan mempunyai keterbatasan integrasi dengan pemasok atau bank untuk mengelola pembelanjaan, persediaan dan pembayaran. Tanpa teknologi yang kompatibel, mereka hanya mendapatkan sedikit keuntungan dari standar dan infrastruktur yang digunakan oleh pelaku bisnis yang lebih besar dalam rantai distribusi ini.

‪Ivan mencontohkan, dengan data yang dimiliki bersama antara peritel modern bersama dengan perbankan membuat peritel modern lebih mudah untuk melakukan pinjaman keperbankan untuk ekspansinya.

"Namun berbeda dengan peritel modern, sehingga mereka sedikit kesulitan untuk berkembang," paparnya. (kie)

(Widi Agustian)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement