JAKARTA - Direktur Indef Fadil Hasan mengkritisi pernyataan calon presiden (capres) nomor urut dua Joko Widodo (Jokowi) yang mengatakan penjualan saham PT Indosat Tbk (ISAT) dikarenakan krisis di masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarno Putri pada 2002.
Pernyataan Jokowi ini diungkapkan pada saat debat capres Minggu lalu ketika ditanya oleh Capres nomor urut satu Prabowo Subianto, yang mengungkapkan alasan Megawati menjual Indosat.
"Jadi dari jawaban yang disampaikan Pak Jokowi dalam debat capres, penjualan itu karena krisis ekonomi 1998 tapi penjualan dilakukan tahun 2002. Apa sih yang terjadi? Apakah memang krisis itu terjadi di Indonesia," ucap Fadil saat diskusi di Senayan Jakarta, Kamis (26/6/2014).
Fadil menambahkan, pada kenyatannya sebelum 2002 atau pada periode BJ Habibie sebagai presiden, terjadi periode stabilisasi ekonomi Indonesia di mana saat itu, Indonesia berhasil menstabilkan nilai tukar Rupiah dan kemudian inflasi. Namun memang betul, saat itu ekonomi belum tumbuh baik.
"Lalu setelah BJ Habibie, masuk era pak Gus Dur, nilai ekspor kita meningkat, sehingga pada periode Megawati menjabat itu sebenarnya ukuran ekonomi kita baik, pertumbuhan ekonomi empat persen, inflasi juga turun, bahkan produksi minyak bumi kita masih 1,2 juta barel per hari. Artinya ekonomi sedang mulai tumbuh akselerasi," tegas Fadil.
Sehingga kata Fadil, pernyataan penjualan Indosat dikarenakan krisis dan karena untuk menutupi defisit APBN itu tidak benar.
"Dulu kalau kita lihat defisitnya Rp24 triliun tapi dibiayai pinjaman luar negeri Rp18 triliun, lalu privatisasi Rp5,6 triliun," paparnya.
Dia menegaskan, kalau memang defisit itu sebagai tolak ukur krisis, saat ini pun Indonesia masih mengalami defisit APBN, sehingga logikanya bisa menjual aset-aset yang penting untuk menutupinya.
"Artinya defisit untuk menutupi anggaran itu tidak harus menutupi dengan menjual aset. Defisit itu tidak mencerminkan krisis. Apalagi pertumbuhan 4 persen pun inflasi stabil," paparnya.
Menurutnya, pernyataan ini bukan semata-semata membela pasangan capres lainnya. Dirinya hanya ingin meluruskan pernyataan Jokowi.
"Saya kira seharusnya kita ini memahami bersama tentang persoalan ini sebelum mengatakan sesuatu yang tidak sesuai apa yang terjadi dan memudahkan seolah-olah apa yang terjadi itu kecil dan ingin dibeli kembali. Ini yang kita sampaikan ke publik, hanya meluruskan saja. Kita ingin berikan gambaran yang sebenarnya," pungkasnya.
(Rizkie Fauzian)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.