Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ekonomi Indonesia Lesu, World Bank Pernah Beri Peringatan

Rani Hardjanti , Jurnalis-Rabu, 06 Mei 2015 |11:17 WIB
Ekonomi Indonesia Lesu, World Bank Pernah Beri Peringatan
Gedung World Bank. (Foto dok: gbcghana.com)
A
A
A

JAKARTA - Data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2015 tidak seperti yang diharapkan. Situasi ini pernah diperingatkan oleh World Bank atau Bank Dunia, bahwa prospek ekonomi global akan membaik pada 2015, namun masih berisiko bagi negara berkembang seperti Indonesia.

Menurut Presiden World Bank Group Jim Yong Kim, dalam kondisi ekonomi yang tidak pasti ini, negara-negara berkembang harus menggunakan sumber daya mereka untuk mendukung program-program sosial yang menargetkan masyarakat miskin dan melakukan reformasi struktural yang berinvestasi pada sumber daya manusia.

"Sangat penting juga untuk menghapuskan hambatan-hambatan bagi investasi swasta yang masih menjadi sumber nomor satu untuk membuka lapangan kerja dan bisa membantu ratusan juta orang keluar dari kemiskinan," ujar dia beberapa waktu lalu, seperti dikutip dari Data Litbang Okezone.com, Rabu (6/5/2015).

Di awal tahun 2015, World Bank memprediksi bahwa negara-negara berkembang akan mulai tumbuh tahun ini karena rendahnya harga minyak, menguatnya ekonomi AS, suku bunga global yang rendah, dan berkurangnya tekanan domestik di sebagian negara-negara berkembang.

Di balik perbaikan ekonomi dunia yang berlangsung secara perlahan, ada beberapa tren berbeda yang memiliki implikasi terhadap pertumbuhan global. Pasar tenaga kerja AS dan Inggris mulai membaik, demikian juga dengan kebijakan moneternya yang masih sangat akomodatif. Berbeda halnya dengan Eropa dan Jepang. China pun kini tengah berhati-hati mengawal pelemahan pertumbuhan ekonominya.

Risiko-risiko yang membuat proyeksi pertumbuhan ekonomi di 2015 ini masih cenderung menurun menurut World Bank adalah :

1. Masih lemahnya perdagangan global. Sejak krisis ekonomi global, perdagangan global telah menurun secara signifikan, hanya tumbuh kurang dari 4 persen pada 2013 dan 2014, jauh di bawah pertumbuhan rata-rata sebelum krisis yaitu sebesar 7 persen per tahun.

2. Kemungkinan guncangan pasar finansial seiring dengan naiknya suku bunga di beberapa negara maju di waktu yang berbeda beda.

3. Seberapa jauh harga minyak yang rendah mempengaruhi perekonomian negara-negara produsen minyak. Harga minyak yang rendah akan menyebabkan perpindahan pendapatan yang signifikan dari negara pengekspor minyak ke negara pengimpor minyak. Bagi eksportir dan importir, rendahnya harga minyak seharusnya bisa memberikan kesempatan untuk melakukan langkah-langkah reformasi guna meningkatkan sumber daya fiskal.

4. Risiko dari periode stagnan atau deflasi di wilayah Eropa dan Jepang yang berlangsung lama.

Seperti diberitakan sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2015 sebesar 4,71 persen year on year (yoy). Sedangkan secara kuartalan (qoq) turun sebesar 0,18 persen.

Padahal, pada tahun 2015, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,7 persen dalam APBNP-2015.

"Pada triwulan I-2015 PDB kita sebesar Rp2.724,7 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 Rp2.157,5 triliun sehingga terjadi pertumbuhan 4,71 untuk year on year," kata Kepala BPS Suryamin di kantornya, Selasa 5 Mei kemarin.

Suryamin mengatakan, tren kuartal I-2015 terjadi penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pengaruh sektor pertanian yang pada akhir tahun lalu terjadi pergeseran musim tanam, sehingga bergeser ke tahun 2015.

(Rani Hardjanti)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement