Kepala Bulog Divisi Regional (Divre) Papua Arif Mandu yang dikonfirmasi memastikan bahwa beras yang didatangkannya aman. Sebaliknya, dia menga takan bahwa yang harus diwaspadai adalah beras yang berasal dari negara lain. "Tapi yang jelas ka lau beras Bulog tidak ada, nan ti bisa dicek, karena memang itu ditengarai beras berasal dari China, dan ini yang perlu diwaspadai, masuknya beras dari luar yang tidak teridentifikasi," tuturnya.
Merespons beredarnya beras sintetis, kemarin Komisi XI DPR RI langsung melakukan sidak ke Kantor Pelayanan Umum (KPU) Bea Cukai Tanjung Priok, Jakarta Utara. Wakil Ketua Komisi XI Jon Erizal menerangkan, sebagai gerbang masuk importir terbesar dalam per edaran barang di Indonesia, bukan tidak mungkin masuknya beras plastik yang berasal dari China sempat transit di Pelabuhan Tanjung Priok hingga akhirnya menyebar ke seantero Nusantara.
"Banyak yang bertanya kepada kami, kenapa beras plastik bisa masuk. Karena itu, kami datangi Bea Cukai. Menurut me reka (Bea Cukai Priok), untuk importasi beras plastik, bukan dari China," ungkap Jon, Ka mis sore (21/5) lalu. Komisi XI belum puas dengan penjelasan Bea Cukai karena baru sebatas berasumsi tanpa bukti konkret. "Artinya jangan sampai mereka (Bea Cukai Priok) bilang bukan dari Priok, namun nanti malah dari Priok. Karena itu, harus dipastikan lagi," jelas Jon. (Yan yusuf/khoirul muzakki/suharjono/ant/Koran Sindo)
(Rani Hardjanti)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.