Tak masalah bila materialnya sebagian besar berasal dari rumah lama milik orang tua, atau bangunan rumah sakit tentara yang berada di Magelang, misalnya. ”Tidak ada konsep. Saya tidak mau terjebak dalam konsep rumah minimalis atau apa, karena yang terpenting rumah itu enak ditinggali, terbuka, banyak pohon, ada udara segar, dan jalur sirkulasi yang baik.
Dengan begitu angin bisa terasa, sementara AC hanya digunakan sesekali,” ujar Butet. Unsur-unsur tradisional Jawa jelas terlihat pada bangunan ini. Ada daun jendela kamar yang panjang dan besar, lantai terakota pada teras, daun jendela maupun daun pintu kayu jati nan lebar, bentuk-bentuk limasan, juga tak ketinggalan joglo. Unsur kayu banyak digunakan, seperti tampak pada bagian lantai, kamar, serta anak tangga.
Selain kayu, Butet juga mengaplikasikan cukup banyak material keramik dan batu alam. Sebagai seniman dan budayawan, tentu Butet menempatkan banyak benda seni di dalam huniannya. Patung, lukisan, bahkan koleksi bungkus rokok tampak menghiasi bagian-bagian rumah ini.
Benda dekoratif bernuansa Jawa dan Tiongkok menjadi pilihan Butet, termasuk barang-barang dari kayu, rotan, dan logam. Alumni ISI Yogyakarta ini juga menyimpan banyak lukisan yang ia buat sendiri. Karya-karya Butet itu tertata rapi di sebuah ruangan khusus di lantai dua. (Siti estuningsih/Koran Sindo)
(Rani Hardjanti)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.