Share

Freeport Picu Tingginya Perbedaan Kaya-Miskin di Papua

Dedy Afrianto, Jurnalis · Senin 18 April 2016 14:20 WIB
https: img.okezone.com content 2016 04 18 320 1365793 freeport-picu-tingginya-perbedaan-kaya-miskin-di-papua-reLJl6G8mZ.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)


JAKARTA - Sepanjang Maret-September 2015, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadi kenaikan pemerataan pendapatan di Indonesia. Hal ini dilihat dari gini ratio yang turun 0,01 poin dari sebelumnya 0,41 menjadi 0,40 secara rata-rata.

Namun, apabila dilihat berdasarkan data per provinsi, BPS mencatat terdapat empat provinsi dengan gini ratio tertinggi di Indonesia sepanjang Maret-Sepetember 2015. Ke empat daerah tersebut adalah Papua Barat dengan gini ratio sebesar 0,43, Jawa Barat 0,43, Yogyakarta 0,42, dan DKI Jakarta sebesar 0,42.

Pada daerah Papua, tingginya gini ratio ini disebabkan oleh ketimpangan pendapatan antara orang yang bekerja di perusahaan PT Freeport Indonesia dengan masyarakat yang bekerja sebagai petani.

"Kalau Papua kita tahu ya ada sektor modern freeport, dan lain-lain. Tapi di bawahnya sangat tradisional, wajar sekali kalau ada gap yang masih lebar," kata Deputi Kepala BPS Bidang Statistik Sosial Muhammad Sairi Hasbullah saat ditemui di kantor pusat BPS, Jakarta, Senin (18/4/2016).

Sedangkan untuk Yogyakarta, lanjutnya, tingginya gini ratio ini disebabkan oleh rendahnya konsumsi masyarakat kelas menengah ke bawah apabila dibandingkan dengan konsumsi masyarakat menengah ke atas. Nilai konsumsi ini bahkan lebih rendah apabila dibandingkan dengan provinsi lainnya.

"Sebetulnya masyarakat lapisan atas Jogja konsumsinya tidak setinggi DKI, tapi konsumsi bawahnya rendah. Jadi gap antara (masyarakat) rendah dan atas agak lebar, lebih lebar dari nasional," jelas Sairi.

Sedangkan pada daerah DKI dan Jawa Barat, tingginya gini ratio ini disebabkan oleh banyaknya jumlah penduduk yang datang setiap tahunnya. Hal ini berdampak pada banyaknya penduduk yang tidak terserap oleh lapangan pekerjaan.

"Selain itu, khususnya pengeluaran DKI bisa dipahami kalau angkanya di atas nasional. Karena di nasional ada sektor pertanian, di DKI kan enggak ada pertaniannya," tukas Sairi.

Sedangkan untuk provinsi dengan gini ratio terendah, BPS mencatat Provinsi Bangka Belitung berhasil menjaga gap antara pendapatan dan pengeluaran masyarakat berpenghasilan tinggi dengan masyarakat berpenghasilan rendah. Indeks gini ratio Bangka Belitung pun hanya mencapai 0,27.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini