JAKARTA - Apa yang akan Anda lakukan jika baru saja mendapatkan uang dalam jumlah besar? Katakan saja uang tersebut berasal dari pencairan dana pensiun, warisan orang tua atau keuntungan sebuah transaksi bisnis. Sebut saja nilainya Rp500 juta atau Rp1 miliar. Dalam benak kebanyakan orang, yang kemudian muncul tentu adalah kesempatan belanja. Uang tersebut bisa digunakan untuk membeli mobil baru, jam tangan mewah, tas branded atau berlian.
Berlainan dengan kebanyakan orang, mereka yang jeli melihat peluang justru akan memanfaatkan uang tersebut untuk dikelola. Sebab, uang yang dikelola di instrumen investasi yang tepat berpeluang untuk tumbuh. Uang yang semula hanya ratusan juta rupiah bisa berkembang menjadi miliaran rupiah bahkan puluhan miliar rupiah, asal dikelola dengan tepat.
Sementara, mereka yang membelanjakan uang tersebut untuk barang cenderung mengalami kerugian. Mau tahu kenapa uang ratusan juta sebaiknya tidak dibelanjakan melainkan dikelola? Berikut ini jawabannya:
Harga barang terdepresiasi
Harga barang kebutuhan mulai dari gadget canggih, tas branded hingga mobil sport sekalipun akan terdepresiasi. Maksudnya, nilai jual barang tersebut akan berkurang seiring perjalanan waktu. Barang mewah pun cenderung mengalami depresiasi tajam mengingat biaya perawatan yang mahal dan cepatnya kemunculan produk baru. Sayangnya, ada pemahaman keliru di tengah masyarakat yang menganggap barang mewah adalah produk investasi.
Kaum hawa, misalnya, sering menganggap berlian adalah bentuk investasi. Selain sebagai lambang kemapanan, berlian dibeli dengan harapan nilainya bertumbuh di kemudian hari. Padahal, berlian yang dapat dijadikan investasi hanya berlian utuh bersertifikat yang disebut dengan berlian solitaire. Sementara, harga berlian perhiasan cenderung jatuh dan sulit dijual kembali. (Baca juga: Apa kerugiannya bila kekayaan tidak dikelola?)
Uang yang dikelola tidak mudah dibelanjakan
Bila Anda mendapatkan uang ratusan juta rupiah bahkan miliar rupiah mendadak, bisa jadi Anda akan tergoda untuk membelanjakannya. Apalagi jika uang tersebut disimpan di instrumen yang sangat mudah dicairkan. Kamu akan kesulitan untuk bersikap disiplin. Berbagai macam godaan belanja mulai dari paket liburan ke luar negeri, hingga teman yang datang untuk meminta bantuan finansial akan membuat uang kamu berkurang.
Tanpa sadar, uang yang disimpan dalam rekening ludes entah ke mana. Sedangkan orang yang mengelola uangnya dalam instrumen investasi cenderung disiplin. Alasannya uang tidak mudah dicairkan. Bahkan, orang yang mengelola uangnya melalui wealth management memiliki wealth manager yang akan memberi nasihat finansial yang membuat orang bijak dalam menggunakan uang.
Terlindung dari risiko kehilangan
Uang Anda jauh lebih aman bila disimpan di instrumen investasi yang dikeluarkan oleh bank. Dari segi keamanan, uang Anda dilindungi oleh teknologi canggih, para petugas bank hingga kepolisian. Anda pun lebih dimudahkan saat mengecek seberapa besar pertumbuhan aset Anda. Cukup melalui situs tertentu atau menghubungi manajer pengelola aset, Anda akan mendapatkan informasi dan penjelasan seputar uang Anda. (Baca juga: Bila aset tidak dikelola dengan tepat, Anda bisa gagal melindungi kekayaan)
Investasi bertumbuh
Berbeda dengan barang yang selalu mengalami depreasiasi, investasi baik itu sifatnya riil (tanah, rumah, logam mulia) dan investasi finansial (obligasi, saham reksa dana) pasti mengalami pertumbuhan. Bunga deposito rupiah misalnya, bisa mencapai 7,50 persen hanya dengan tenor satu bulan. Sementara imbal hasil reksa dana bisa mencapai 20 persen per tahun.
Bahkan, bila kamu termasuk orang yang sabar, investasi agresif seperti saham bisa memberikan imbal hasil jauh lebih besar lagi. Bila dikelola secara tepat, investasi tidak hanya membuat Anda kaya melainkan aset akan bertahan hingga anak-cucu.
Nah, masih berniat membelanjakan uang ketimbang mengelolanya?
(Widi Agustian)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.