Uang sebagai Media Perekam Sejarah

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 26 Desember 2016 14:13 WIB
https: img.okezone.com content 2016 12 26 20 1575839 uang-sebagai-media-perekam-sejarah-EjF3WBfGTA.jpg Ilustrasi : Okezone

UANG kartal yang beredar di masa Indonesia setelah merdeka, bisa dikatakan menjadi salah satu media perekam sejarah peristiwa, kekayaan alam, hasil pembangunan yang berlangsung di republik ini.

Salah satu yang paling diingat orang Medan atau Sumatera Utara adalah dijadikannya Bendungan Siguragura, Asahan sebagai gambar pecahan uang kertas Rp100, yang diterbitkan pada 1984. Untuk mengingatkan, uang pecahan Rp100 ini, pada sisi depannya bergambar burung dara mahkota yang merupakan burung asal Papua (dulu Irian Jaya). Sedangkan bagian belakangnya bergambar Bendungan Siguragura, Asahan.

Bendungan ini beroperasi tak terlepas dari keberadaan PT Inalum yang saat itu baru saja beroperasi setelah dikerjasamakan dengan konsorsium Jepang. “Bisa dibilang, uang ini diluncurkan bersamaan dengan mulai beroperasinya bendungan Siguragura. Bendungan ini adalah salah satu simbol pembangunan di daerah yang sampai saat ini masih dirasakan manfaatnya,” kata pegiat sejarah, Ibnu A Matondang. Bendungan ini menghasilkan listrik untuk Inalum.

Sekarang, sebagian juga disalurkan ke PLN masuk dalam jaringan interkoneksi Sumatera bagian utara. Jika didalami lagi gambar burung dara mahkota adalah hewan yang berasal dari Timur Indonesia sedangkan Bendungan Siguragura Asahan adalah pembangunan teknologi dari sisi Barat Indonesia. Uang ini ingin memadukan keunggulan barat dan timur Indonesia. Selain uang pecahan Rp100 yang terbit pada 1984 ini, ada beberapa pecahan uang kartal lain yang juga bisa diartikan merekam sejarah perjalanan bangsa ini.

Misalnya pecahan Rp10.000 terbitan 1975 bergambar Barong dan ornamen Candi Borobudur. Uang ini disebut, menggambarkan dimulainya renovasi besar besaran candi Borobudur oleh UnitedNations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Kemudian pecahan Rp10.000 yang terbit pada 1992, juga bergambar Candi Borobudur secara utuh.

Uang ini diartikan sebagai gambaran bawah candi tersebut yang telah selesai direnovasi dan masuk sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO. Kemudian ada pula pecahan uang Rp1 terbitan 1945 seri ORI (Oeang Republik Indonesia). Dari penelusuran, pada uang ini tergambar jelas gunung berapi (Gunung Merapi) Jawa Tengah, yang sedang dalam keadaan aktif. Diketahui, pada masa itu Gunung Merapi erupsi berturut-turut selama tiga tahun mulai 1942 -1945.

“Saya pernah baca soal ini. Seharusnya Gunung Sinabung bisa juga itu dijadikan gambar dalam uang. Erupsinya sudah berlangsung lima tahun itu,” kata alumni Antropologi Sosial Unimed ini. Uang kartal lain yang mengambar rekaman peristiwa adalah pecahan Rp25 terbitan 1968. Uang kertas ini, menggambarkan Jembatan Ampera di Palembang.

Pembangunan jembatan ini dimulai pada bulan April 1962, setelah mendapat persetujuan dari Presiden Soekarno. Laman wikipedia.com menyebutkan biaya pembangunannya diambil dari dana rampasan perang Jepang. Bukan hanya biaya, jembatan ini pun menggunakan tenaga ahli dari negara tersebut.

Peresmian pemakaian jembatan dilakukan pada tahun 1965, sekaligus mengukuhkan nama Bung Karno sebagai nama jembatan. Setelah terjadi pergolakan politik pada tahun 1966, nama jembatan itu pun diubah menjadi Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat). Jembatan yang waktu diresmikan merupakan yang terpanjang di Asia Tenggara ditambah lagi peristiwa kemenangan orde baru yang berhasil mengubah nama jembatan tersebut, terekam dengan baik pada uang ini.

(rai)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini